Batik dan Kopi, Dua Komoditi Pembangkit Ekonomi

  • 03 Okt 2024 19:44 WIB
  •  Jember

KBRN, Bondowoso : Kabupaten Bondowoso memiliki sumber daya alam yang dapat bersaing dengan daerah lainnya di Indonesia. Selain dikenal karena jajanan khas Tape, Bondowoso menasbihkan diri sebagai Bondowoso Republik Kopi (BRK) yang digagas sejak era kepemimpinan Bupati Amin Said Husni. Di Bondowoso, terdapat 3 jenis kopi potensial yang ditanam di sejumlah lereng pegunungan yakni kopi Arabika, Robusta dan Luwak.

Ketua Pokdarwis Ijen Murni Sumber Wringin, Nurul Fadli mengatakan, gairah kopi kini menarik generasi milenial di Bondowoso untuk menggelutinya. Mereka sudah mulai terjun langsung ke lahan-lahan kopi, menjadi prosesor kopi hingga rostery.

Sementara di bidang edukasi terkait kopi sejauh ini mengalami progres yang cukup baik. Semakin hari tingkat kunjungan makin meningkat. Per bulan tingkat kunjungan mencapai kurang lebih 200.

" Dimana pengunjung tersebut didominasi oleh sekolah-sekolah, " katanya saat dikonfirmasi RRI, Kamis (3/10/2024).

Produksi kopi jenis Arabika tiap tahun kian bertambah. Bahkan, selain produktivitas harga yang terbaru sekarang untuk jenis Robusta meningkat dua kali lipat.

" Sekarang saja untuk cherry-nya sudah 16.000 per kilogram, sementara untuk green mencapai 75-80 ribu per kilogram, " lanjutnya.

Besarnya potensi kopi di Kota Tape, membuat pelaku usaha tidak kebingungan untuk mencari pembeli. Menurut pria yang disapa Fadli tersebut, pembeli tetap kopi Bondowoso berasal dari Bandung hingga Aceh.

" Mereka ada orang kedua di sini, bahkan ada gudangnya tersendiri, " ungkapnya.

Dengan begitu, tidak heran jika penjualan kopi di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin selalu ludes tiap tahun

Dengan luasan lahan sekitar 8000 hektar, kuantitas produksi per hektar mencapai 2 ton. Artinya, dalam setahun Desa Sukorejo dapat memproduksi sekitar 16.000 ton.

" Pengiriman kopi Bondowoso masih melayani yang lokal. Untuk yang kami yang kopi rakyat ini masih di seputaran lokal Indonesia, " imbuhnya.

Ia berharap, pemerintah daerah melalui instansi terkait tidak pernah lelah dalam hal pendampingan dan edukasi-edukasi kepada petani. Tujuannya agar kualitas kopi dapat dipertahankan dengan baik selamanya.

" Rata-rata warga Sukorejo profesinya memang pekerja kopi 80% warganya pelaku usaha kopi dimulai dari petani kopi, buruh tani kopi, juga UMKM kopi, " tegas Fadli.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....