Eksistensi Arsitektur Tradisional Bali di Tengah Modernisasi

  • 17 Mar 2024 20:19 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar: Bali kini sedang menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi yang membawa potensi hilangnya tradisi dan spiritualitas. Kehidupan spiritual dan kebudayaan yang pernah berakar kuat dalam praktik sehari-hari, mulai tergerus oleh perubahan zaman. Demikian juga arsitektur tradisional Bali yang unik pun perlahan digantikan dengan desain modern.


Pengamat Tata Ruang dan Perkotaan Bali, Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain dihubungi RRI di Denpasar, Minggu (17/3/2024) tidak menampik modernisasi juga mempengaruhi ekspresi artistik. Dimana seniman lokal mulai memadukan unsur-unsur modern dan tradisional dalam menciptakan karya.


"Arsitektur ini sangat rentan dengan perubahan karena berbagai aspek diantaranya ikut memberi warna. Misalkan soal teknologi, soal bahan, kemajuan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan berbagai kemudahan alternatif dan nilai-nilai tertentu kepada karya-karya arsitektur," kata Prof. Rumawan.


Kendati demikian, kata Rumawan, gerusan modernisasi tersebut dapat ditangkal dengan memperkuat identitas, kelokalan budaya Bali.


"Di dalam era modern yang globalisasi ini menerpa kita semua, sebenarnya ada perlawanan tidak langsung ada perlawanan dari masing-masing individu melalui komunitas dan masyarakatnya untuk memperkuat jati diri. Jadi identitas menjadi penting sehingga mereka berupaya menampilkan kelokalannya agar tidak tergerus oleh pengaruh-pengaruh global. Bahkan pemerintah sebenarnya melalui Perda bangunan gedung, Perda nomor 5 tahun 2005 itu sudah mencantumkan arsitektur tradisional Bali atau arsitektur di Bali itu ada beberapa jenis arsitektur," ujarnya.


Prof. Rumawan menilai meskipun arsitektur tradisional Bali mengalami penggerusan, namun hingga saat ini eksistensinya masih terjaga. Ketentuan-ketentuan yang mengikat pemilik dan bangunannya juga disebut masih tetap terasa.


"Saya tidak bisa menyatakan dalam bentuk persentase, tetapi bahwa eksistensinya masih tetap berlangsung, peminatnya masih ada. Apalagi yang berkaitan dengan adat dan agama, pasti tidak lari dari pakem yang ada. Sehingga dengan demikian, yang tengah kreativitas kita itu adalah di bangunan-bangunan fungsi baru. Nah kita berharap semoga perda ini bertambah kuat untuk bisa melestarikan arsitektur tradisional bali," terangnya.


Tidak dapat dipungkiri, Bali saat ini sudah dipengaruhi pariwisata dan modernisasi, sehingga menyebabkan beberapa perubahan dan seringkali menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan ekspektasi wisatawan. Karena itu, melalui peringatan Hari Arsitektur Indonesia ini, Arsitek yang juga Dosen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana itu lebih lanjut mengingatkan berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembangunan agar dapat mempertahankan ciri khas arsitektur Bali dan menjaga kelestariannya agar tetap terpelihara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....