Bali Tinggi Mobilitas Wisatawan, Penerapan Travel Medicine Jadi Kunci Utama
- 30 Agt 2026 11:31 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Tingginya mobilitas wisatawan ke Bali menjadi salah satu alasan pentingnya penerapan travel medicine atau kedokteran perjalanan. Langkah tersebut dinilai dapat membantu wisatawan mempersiapkan kondisi kesehatan sebelum bepergian, menjaga kesehatan selama berada di daerah tujuan, hingga melakukan pemeriksaan setelah kembali.
Ketua Unit Travel Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Dr. dr. Cokorda Agung Wahyu Purnamasidhi, MBiomed., SpPD, kepada RRI.CO.ID, Jum’at, 28 Agustus 2026 mengatakan penerapan travel medicine penting dilakukan, terutama ketika seseorang akan bepergian ke daerah yang memiliki risiko penyakit tertentu, termasuk penyakit yang ditularkan melalui nyamuk seperti Zika. Menurutnya, travel medicine mencakup tiga tahapan utama, yakni pre-travel sebelum perjalanan, during travelselama perjalanan, dan post-travel setelah kembali dari daerah tujuan.
“Kalau perjalanan itu ada namanya travel medicine. Di negara maju, travel medicine itu ada pre-travel, during travel, dan post-travel. Itu penting sekali,” ujarnya.
Pada tahap pre-travel, masyarakat dianjurkan mencari informasi mengenai kondisi kesehatan di daerah tujuan. Konsultasi dengan dokter juga dapat dilakukan untuk mengetahui persiapan kesehatan yang diperlukan sebelum keberangkatan.
Ia menilai tahapan tersebut penting karena seseorang tidak selalu mengetahui penyakit apa saja yang berpotensi ditemukan di wilayah yang akan dikunjungi. “Kalau ingin mencegah apa pun itu dalam berangkat, lakukan konsultasi dulu. Ke negara mana Anda akan berangkat, apa yang harus disiapkan, penyakit apa saja yang ada di sana,” ungkapnya.
Sementara selama perjalanan atau during travel, wisatawan perlu menyesuaikan perlindungan diri dengan aktivitas yang dilakukan. Aktivitas di luar ruangan atau outdoor, misalnya, memiliki potensi paparan gigitan nyamuk yang lebih besar dibandingkan ketika seseorang berada di dalam ruangan.
Untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk, wisatawan dapat menggunakan repellent atau obat antinyamuk serta mengenakan pakaian yang dapat melindungi sebagian besar permukaan kulit. “Kalau kegiatan outdoor, tentu nyamuk akan lebih banyak dibandingkan di dalam hotel. Kalau di daerah tujuan ada Zika, kita harus waspada membawa repellent, baju lengan panjang, sehingga menghindari gigitan nyamuk,” jelasnya.
Setelah kembali atau memasuki tahap post-travel, wisatawan juga dianjurkan memperhatikan kondisi kesehatannya. Pemeriksaan dapat dilakukan apabila muncul keluhan atau terdapat kemungkinan terpapar penyakit selama berada di daerah tujuan.
Dr. Cokorda mengatakan informasi mengenai penyakit yang berpotensi terjadi di suatu wilayah dapat diperoleh melalui sumber resmi, termasuk laman informasi kesehatan yang memberikan pembaruan mengenai kondisi penyakit di daerah tujuan. Menurutnya, wisatawan memiliki peran penting untuk mencari informasi kesehatan sebelum melakukan perjalanan.
Hal tersebut menjadi semakin relevan bagi Bali karena daerah ini memiliki mobilitas wisatawan yang tinggi dari berbagai negara. Ia menjelaskan, virus Zika sendiri ditularkan melalui gigitan nyamuk.
Karena Bali memiliki vektor nyamuk, wisatawan yang membawa virus dari wilayah tertentu berpotensi menjadi bagian dari rantai penularan apabila terdapat kondisi yang memungkinkan. “Bali sebagai pusat wisatawan, kita menerima wisatawan yang masuk. Itu bisa membawa virus tersebut dalam tubuhnya. Karena nyamuknya sendiri kita punya, vektor nyamuknya kita punya, sehingga mudah untuk menyebar di masyarakat,” katanya.
Meski demikian, ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak panik. Menurutnya, langkah paling penting adalah meningkatkan kewaspadaan, menjaga lingkungan, mengendalikan populasi nyamuk, serta memperhatikan kondisi kesehatan sebelum dan sesudah melakukan perjalanan.
Ia juga mengingatkan bahwa pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab wisatawan, tetapi juga masyarakat secara umum melalui upaya pemberantasan sarang nyamuk. Dengan penerapan travel medicine dan pengendalian vektor secara konsisten, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan perlindungan kesehatan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah mobilitas wisatawan yang terus berlangsung di Bali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....