Nelayan Melaya Keluhkan Alat Tangkap dan Akses BBM untuk Melaut

  • 27 Agt 2026 09:08 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jembrana - Nelayan di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, masih menghadapi sejumlah kendala dalam menjalankan aktivitas melaut, mulai dari kondisi alat tangkap dan mesin yang mulai kurang layak hingga kesulitan memperoleh bahan bakar minyak atau BBM. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Melaya sekaligus Pengurus Kelompok Manik Segara, Agus Sulaimi, kepada RRI.CO.ID, Jumat, 21 Agustus 2026 mengatakan dukungan terhadap sarana produksi menjadi salah satu kebutuhan utama nelayan kecil untuk meningkatkan hasil tangkapan dan pendapatan.

Menurutnya, sebagian nelayan masih menggunakan sampan dan mesin yang kondisinya sudah kurang layak sehingga membutuhkan dukungan alat tangkap maupun sarana melaut yang lebih memadai. “Bantuan alat tangkap sebenarnya. Alat tangkap yang lebih memadai, karena memang banyak kondisi-kondisi sampan, mesin nelayan itu sudah kurang layak pakai,” ujarnya.

Selain alat tangkap, persoalan BBM juga menjadi kendala yang cukup dirasakan nelayan. Agus mengatakan nelayan yang menggunakan mesin di sampan mengalami kesulitan ketika harus memperoleh BBM untuk kebutuhan melaut.

Ia menjelaskan, nelayan tidak memungkinkan membawa mesin yang berada di sampan ke stasiun pengisian BBM. Di sisi lain, penggunaan jeriken atau wadah tertentu untuk membawa BBM juga menjadi persoalan bagi nelayan.

“Itu yang sangat kesulitan untuk saat ini pengisian BBM, pembelian BBM. Tidak mungkin rasanya kalau kita beli BBM ke pom bensin itu membawa mesin setiap hari. Kemudian kalau kita bawa jeriken atau botol Aqua sudah tidak boleh,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat sebagian nelayan harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar. Untuk jumlah yang relatif kecil, nelayan membeli BBM menggunakan sepeda motor kemudian memindahkannya ke mesin.

Namun, apabila kebutuhan BBM cukup besar, nelayan harus berulang kali melakukan pembelian menggunakan sepeda motor. Menurut Agus, kondisi tersebut menjadi kurang efisien dan menyulitkan nelayan dalam menjalankan aktivitas melaut.

“Kalau jumlah kecil kita beli pakai motor, kemudian kita sedot dari motor. Tapi kalau jumlahnya besar, itu sangat kesulitan sekali, harus bolak-balik kita beli isi bensin menggunakan sepeda motor,” jelasnya.

Di tengah berbagai kendala tersebut, Agus mengatakan pendapatan nelayan saat ini pada dasarnya masih mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Namun, penghasilan tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga lainnya, terutama biaya pendidikan anak.

“Kalau bisa dibilang cukup, cukup untuk makan. Tapi kalau untuk hal yang lain-lain dari itu saya rasa masih kurang. Seperti contoh misalkan ada anak sekolah, apalagi anak kuliah, saya rasa belum cukup,” katanya.

Agus menilai peningkatan kesejahteraan nelayan tidak cukup hanya melalui bantuan sesaat. Dukungan pemerintah perlu diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar menunjang aktivitas nelayan, termasuk alat tangkap yang layak dan akses BBM yang lebih mudah.

Selain peningkatan kesejahteraan, ia juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan pengawasan sekaligus pembinaan kepada nelayan agar tidak menggunakan cara penangkapan yang dapat merusak lingkungan.

Agus berharap pengawasan terhadap praktik penangkapan ikan yang melanggar ketentuan dapat dilakukan secara berkelanjutan, termasuk terhadap penggunaan kompresor dan aktivitas yang berpotensi merusak terumbu karang. “Harapannya pemerintah harus proaktif memantau, kemudian membina nelayan-nelayan agar tidak ada lagi mencari ikan dengan hal-hal yang melanggar hukum, seperti menggunakan kompresor,” tegasnya.

Ia menilai pengawasan dan pembinaan harus berjalan beriringan dengan pemberian akses terhadap kebutuhan dasar nelayan. Dengan demikian, nelayan tetap dapat memperoleh penghasilan tanpa harus melakukan aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem laut.

“Setidaknya pemerintah bisa memfasilitasi nelayan-nelayan kecil untuk bisa membeli BBM secara mudah. Itu sih harapannya,” pungkas Agus Sulaimi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....