Zona Tangkap Bergeser, Nelayan Denpasar Beralih ke Pariwisata Bahari
- 27 Agt 2026 08:53 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Reklamasi dan perubahan arus laut memicu pergeseran wilayah tangkap nelayan tradisional di pesisir Kota Denpasar. Kondisi tersebut memaksa sebagian besar nelayan bernavigasi mengalihkan profesi ke sektor pariwisata bahari demi menjaga kelangsungan hidup.
Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Denpasar, I Wayan Suteja, kepada RRI.CO.ID, Jumat, 21 Agustus 2026 menjelaskan bahwa armada kapal di bawah 2 GT milik nelayan kecil kini kesulitan menjangkau zona tangkap baru yang semakin jauh ke tengah laut. “Perubahan arus pascareklamasi membuat titik penangkapan ikan bergeser sangat jauh. Karena nelayan Denpasar rata-rata mengoperasikan perahu di bawah 2 GT, kita tidak bisa melaut terlalu jauh. Dampaknya, tangkapan di perairan Nusa Dua hingga Nusa Penida semakin minim, sehingga banyak yang bergeser menjadi nelayan pariwisata,” kata Suteja kepada RRI.
Selain perubahan arus, tingginya aktivitas transportasi laut di sepanjang pesisir Serangan hingga Matahari Terbit turut memperparah penurunan populasi biota laut. Lalu lalang speedboat memicu polusi suara serta emisi bahan bakar yang membuat ikan migrasi keluar dari perairan dangkal.
Melihat tekanan tersebut, Suteja mendorong pemerintah daerah untuk memberikan kepastian perlindungan hukum serta penguatan posisi nelayan tradisional (bendega). Keberadaan nelayan kecil dinilai memiliki dimensi sosio-religius yang kuat sesuai dengan adat dan budaya Bali.
“Nelayan tradisional atau bendega ini adalah bagian dari adat dan budaya Bali yang harus dilindungi. Jangan sampai posisi nelayan kecil terus tergeser oleh masuknya investasi di kawasan pesisir. Kami sangat berharap ada perlindungan nyata serta dukungan sarana prasarana dan ketersediaan BBM bersubsidi dari pemerintah,” ujar Suteja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....