Hasil Lab Keluar, Anjing Gigit Tiga Warga Jembrana Dinyatakan Positif Rabies
- 22 Jun 2026 07:15 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Jembrana - Anjing yang menggigit tiga warga di Desa Tegalbadeng Timur, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana dipastikan terjangkit virus rabies. Kepastian ini diperoleh setelah hasil uji laboratorium sampel otak anjing oleh Balai Besar Veteriner (BB Vet) Denpasar menunjukkan hasil positif pada Minggu 21 Juni 2026.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengatakan, ada dua sampel otak anjing yang dikirim ke laboratorium BB Vet Denpasar, yakni sampel anjing yang menggigit warga di Desa Tukadaya, Melaya dan sampel di Desa Tegalbadeng Timur, Negara. "Hasilnya padi pagi keluar. Untuk sampel di Desa Tegalbadeng Timur positif rabies dan yang lainnya negatif," ujarnya.
Berdasarkan hasil tersebut, pihaknya akan segera menggelar vaksinasi emergensi dan eliminasi selektif terhadap Hewan Penular Rabies (HPR) yang menyasar lingkungan sekitar lokasi gigitan anjing tersebut. "Kita akan lakukan vaksinasi emergensi dulu, nanti kami kordinasi dengan desa kalau desa menginginkan ada eliminasi, tergantung pihak desanya. Kami tidak berani kalau tidak ada permintaan dari desa. Sementara vaksinasi emergensi yang menyasar di lingkungan lokasi gigitan radius sekitar 1 hingga 2 kilometer dari kasus" jelasnya.
Selain menggelar vaksinasi emergensi, tahapan vaksinasi massal yang tengah berjalan terus dikebut. Hingga saat ini, kata Sugiarta, cakupan vaksinasi HPR di Jembrana sudah mencapai 20% dari total populasi anjing sebanyak 40.400 ekor anjing.
"Hampir 9 ribu ekor (anjing) sudah divaksinasi, atau sekitar 20 persen. Sisa sekitar 32 ribu, kami targetkan bulan juli hingga Agustus vaksinasi massal sudah selesai," ungkapnya.
Disinggung terkait stok vaksin, Sugiarta mengatakan, hingga saat ini stik vaksin untuk HPR di Jembrana masih aman. "Stok (vaksin) sangat mencukupi. Kita dibantu dari provinsi untuk alokasi vaksin sesuai dengan jumlah populasi anjing di Jembrana. Cuman sekarang kita menentukan anggaran operasionalnya saja, karena kita libatkan juga jasa dokter hewan swasta, selain juga menyediakan tenaga reguler," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan penularan virus rabies kembali meresahkan warga Kabupaten Jembrana. Tiga warga di Banjar Tangi, Desa Tegalbadeng Timur, Kecamatan Negara, dilaporkan menjadi korban gigitan seekor anjing yang diduga kuat terjangkit rabies. Mirisnya, dua dari tiga korban tersebut merupakan anak bawah lima tahun (balita).
Anjing ras jantan berwarna cokelat berusia sekitar 3 tahun itu terakhir kali menyerang Sodikun (47) pada Senin 15 Juni 2026 malam sekitar pukul 21.00 WITA. Korban diserang secara mendadak saat menghadiri acara syukuran.
"Kami sedang berkumpul dan mengobrol di depan gang rumah. Tiba-tiba anjing itu menyerang dari belakang dan menggigit kaki saya. Saat diusir, dia menyerang lagi, sampai akhirnya saya lempar batu baru anjing itu lari," ujar Sodikun saat ditemui di kediamannya, Selasa 16 Juni 2026.
Meski tidak sampai mengeluarkan darah, gigitan anjing yang sengaja diliarkan oleh pemiliknya tersebut menyebabkan betis kiri Sodikun lebam dan bengkak. Menurut Sodikun, serangan terhadap dirinya bukan yang pertama. Sehari sebelumnya, yakni pada Minggu 14 Juni 2026, anjing yang sama telah menggigit dua bocah setempat, yaitu Nara (4) dan Husein (5).
"Husein digigit pada paha kanan hingga luka berdarah. Sebelum itu, anjing yang sama juga menggigit Nara, tapi kondisinya tidak terlalu parah," imbuh Sodikun.
Misteri perilaku agresif anjing tersebut mulai menemui titik terang setelah warga menemukan hewan itu mati di pinggir jalan tidak jauh dari lokasi kejadian pada Selasa 16 Juni 2026 pagi. Mengetahui hal tersebut, para korban langsung melaporkan kejadian ke petugas kesehatan dan bergegas ke puskesmas setempat untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR).
Petugas Medikvet Kecamatan Negara, drh. I Putu Hendra Jaya Agus, menyatakan bahwa ciri-ciri kasus ini mengarah kuat pada dugaan suspect rabies, terlebih karena anjing tersebut mati mendadak setelah menyerang warga. "Memang benar anjing itu mati sendiri. Saat ini, sampel otak anjing telah diambil untuk diuji di Laboratorium Balai Besar Veteriner (BB Vet) Denpasar guna memastikan apakah positif rabies atau tidak," tegas drh. Hendra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....