Gerakan Perempuan Membaca Dinilai Krusial di Era Digital

  • 21 Apr 2026 19:38 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Momentum Hari Kartini dimaknai sebagai penguatan gerakan literasi perempuan di tengah arus kemajuan teknologi yang kian pesat. Aktivis perempuan sekaligus Sekretaris Bali Sruti, Doktor I Gusti Ayu Andani Pertiwi, kepada RRI.CO.ID, Senin, 20 April 2026 menjelaskan bahwa gerakan perempuan membaca menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas pengetahuan di era digital.

Menurutnya, saat ini masyarakat, khususnya generasi muda, cenderung terbiasa dengan konsumsi informasi instan melalui video pendek di berbagai platform digital. “Menurut saya ini penting sekali ya, karena dewasa ini kita dimabukkan oleh kemajuan teknologi yang di dalamnya generasi saat ini disuguhkan oleh banyaknya video-video pendek. Nah, menurut saya ini justru membentuk sebuah kebiasaan kita untuk inginnya segala sesuatu begitu cepat dan instan,” ujarnya.

Ia menambahkan, membaca merupakan proses yang membutuhkan ketelatenan dan waktu, sehingga menjadi hal yang kontradiktif dengan kebiasaan instan saat ini. “Membaca itu adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu, ketelatenan untuk mendapatkan pengetahuan itu sendiri. Maka saya rasa sangat penting sekali gerakan perempuan membaca diterapkan secara masif di era sekarang,” ungkapnya.

Terkait minat baca perempuan di Bali, pihaknya mengaku belum memiliki data spesifik berbasis gender. Namun, berdasarkan data yang ada, tingkat melek huruf perempuan di Bali tergolong tinggi.

“Kami belum mendapatkan data secara spesifik, apalagi secara pilah gender. Tetapi angka melek huruf perempuan di Bali itu tinggi juga ya, sembilan puluhan ke atas,” jelasnya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya data literasi berbasis gender sebagai dasar kebijakan ke depan. “Data-data itu sangat penting apalagi berdasarkan pilah gendernya,” tambahnya.

Dalam praktiknya, Bali Sruti belum memiliki program khusus gerakan perempuan membaca, namun secara tidak langsung mendorong literasi melalui program Sekolah Perempuan. “Tidak secara spesifik gerakan membacanya, tetapi secara tidak langsung kami mengajak mereka untuk membaca modul, misalnya terkait perbedaan seks dan gender, serta mengenali kekerasan,” ujarnya.

Ia juga menilai peran perempuan dalam membangun budaya literasi sangat krusial, terutama dalam lingkup keluarga. “Perempuan ini kan dalam keluarga menjadi istri, menjadi ibu. Saya rasa sangat penting sekali untuk mengenalkan literasi kepada generasi berikutnya,” katanya.

Untuk meningkatkan minat baca, ia menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung literasi, baik melalui akses perpustakaan maupun pemanfaatan ruang digital. “Perpustakaan itu jamnya harus diperpanjang, dan alternatif lain mungkin kita bisa membawa buku-buku itu ke ruang digital,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tantangan utama dalam gerakan membaca berbeda pada tiap kelompok. Pada generasi muda, tantangan berasal dari kebiasaan digital yang serba cepat, sementara pada perempuan dewasa lebih kepada keterbatasan waktu.

“Kalau perempuan dewasa tantangannya itu di waktu, karena disibukkan oleh kegiatan rumah tangga, pekerjaan, dan aktivitas adat,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak sepenuhnya berdampak negatif. “Kita tidak bisa men-justifikasi kemajuan digital ini buruk, karena ada sisi positifnya juga bahwa kita bisa mengakses informasi secara luas melalui ruang digital,” ujarnya.

Dalam menjaga semangat literasi, Bali Sruti juga mendorong literasi digital sebagai bagian dari gerakan. “Kami juga menggalakkan literasi digital, karena banyak dari kita tidak cukup peka terhadap apa yang ada di ruang digital,” katanya.

Ke depan, pihaknya berharap gerakan membaca tidak hanya berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga mendorong kemampuan berpikir kritis. “Kami berharapnya itu adalah membaca kritis dan bermanfaat, sehingga lahir perempuan-perempuan kritis dan berani bersuara,” ungkapnya.

Pada peringatan Hari Kartini ini, ia juga menyampaikan harapan agar semakin banyak perempuan mendapatkan akses pengetahuan dan memiliki posisi tawar di masyarakat. “Dengan semakin banyak perempuan mendapat akses membaca, perempuan akan semakin kritis dan tidak mudah menerima ketidakadilan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....