Apakah Penderita Diabetes dapat Sembuh?
- 05 Agt 2026 06:40 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, DENPASAR – Diabetes sering kali dijuluki sebagai "ibu dari segala penyakit". Kondisi kadar gula darah yang tinggi secara kronis mampu merembet dan merusak berbagai jaringan organ tubuh, mulai dari mata, ginjal, hingga saraf dan pembuluh darah.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Anak Agung Gede Ari Nanda Bhaswara, SpPD menyebutkan, salah satu komplikasi yang paling sering ditemui masyarakat adalah munculnya luka di bagian kaki yang sangat sulit sembuh, atau yang populer dikenal masyarakat sebagai komplikasi kaki diabetes. Dalam dialog interaktif program Indonesia Sehat di Pro 1 RRI Denpasar, dr. Nanda mengupas tuntas mekanisme terjadinya komplikasi luka diabetes, alasan di balik sulitnya proses penyembuhan, hingga peluang remisi melalui kedisiplinan pola hidup.
Alasan luka kaki diabetes sulit sembuh disebabkan oleh tiga hal yang sudah menyerang area kaki, seperti menurunnya sensivitas saraf pasien diabetes hingga hilang rasa. Akibatnya, saat kaki tergores atau terluka, pasien tidak merasakan sakit dan tetap beraktivitas seperti biasa, sehingga luka yang semula kecil luput dari perhatian dan kian membesar.
| Baca juga: Manfaat Daun Pepaya bagi Kesehatan |
Terjadi pula penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan plak. Reaksi inflamasi normal yang seharusnya memicu pembuluh darah melebar untuk mengalirkan sel darah putih pemberantas kuman justru terganggu.
Selain itu, terjadi pula penurunan fungsi sel darah putih. Saat kadar gula darah melonjak tinggi, berpengaruh juga pada kinerja sel darah putih menjadi tidak optimal atau "impoten" dalam melumpuhkan kuman dan bakteri infeksi.
"Kombinasi antara saraf yang mati rasa, aliran darah yang menyempit, serta sel darah putih yang lemah membuat infeksi di area kaki sangat cepat menyebar dan sangat sulit disembuhkan secara alami oleh tubuh," terang dr. Nanda.
| Baca juga: Manfaat Buah Pare bagi Kesehatan |
Jika kerusakan vaskular maupun jaringan organ sudah terlanjur parah, tindakan medis ekstrem seperti operasi pemotongan (amputasi) sering kali menjadi pilihan terakhir yang tidak bisa dihindari.
Selama ini masyarakat sering kali hanya menuding nasi putih sebagai faktor pemicu diabetes. Padahal, menurut dr. Nanda, risiko diabetes tidak saja dari persoalan nasi putih. Justru disebabkan dari kombinasi asupan makanan, kurangnya aktivitas fisik, serta faktor genetik.
"Penting bagi kita untuk menanamkan kesadaran saat makan apakah kita makan untuk mencari kesenangan atau makan untuk sehat? Memilih makanan utuh seperti sayur dan buah segar jauh lebih aman bagi tubuh dibanding terus-menerus mengonsumsi gorengan dan jajanan olahan," tambahnya.
Lalu, mungkinkah diabetes bisa sembuh total?
Komplikasi organ yang sudah mengalami kerusakan permanen akibat diabetes, seperti gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah, sulit untuk kembali normal. Namun, bagi pasien pradiabetes atau penderita diabetes yang belum mengalami komplikasi berat, peluang untuk lepas dari ketergantungan obat tetap terbuka melalui konsep remisi.
"Dalam dunia medis ada istilah remisi, yaitu kondisi di mana kadar gula darah pasien diabetes dapat terkontrol dengan baik hingga berada di kisaran normal tanpa bantuan obat-obatan. Kuncinya ada pada perbaikan pola hidup yang ketat dan konsisten," tegas dr. Nanda.
Kedisiplinan tersebut mencakup pengaturan porsi makan secara ketat, pengurangan asupan karbohidrat sederhana, aktivitas fisik teratur, serta kontrol medis secara telaten. Menurutnya, sebaik apa pun obat atau dosis suntik insulin yang diberikan dokter, hasil pengobatan tidak akan optimal tanpa komitmen mandiri dari pasien untuk mengubah gaya hidupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....