Media Sosial: Sahabat atau Musuh Otak ADHD?
- 10 Jun 2026 20:57 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Kaitan erat antara penggunaan media sosial intensif dengan fungsi eksekutif otak.
- Risiko kesehatan mental yang lebih tinggi bagi remaja dengan gejala ADHD.
- Pentingnya edukasi digital untuk menjaga kontrol impuls dan kestabilan emosi.
RRI.CO.ID, Denpasar - Menyambut Hari Media Sosial Indonesia, mari bicara tentang kesehatan saraf kita. Riset Yale School of Medicine menemukan kaitan unik antara media sosial dan ADHD.
Remaja dengan gangguan perilaku cenderung lebih rentan terhadap stimulasi media digital. Pola koneksi otak mereka tampak berbeda saat menggunakan aplikasi secara intensif.
BACA JUGA: Bijak Beranda: Bukan Durasi, tapi Kualitas Konten!
Ibrahim, salah satu peneliti Yale, sedang mendalami gaya konten media sosial. Ia meneliti bagaimana kecepatan video memengaruhi fokus dan kontrol impuls anak.
Temuan awal menunjukkan remaja yang aktif di medsos memiliki pola perhatian berbeda. Hal ini terutama terlihat pada mereka yang memiliki masalah kemarahan kronis.
Kecepatan konten di platform modern diduga mampu mengubah gaya konektivitas saraf. Pengguna dewasa muda perlu waspada terhadap perubahan suasana hati yang mendadak.
BACA JUGA: Bijak Bermedsos: Lindungi Mental Remaja di 10 Juni
"Tujuannya adalah menciptakan program berbasis bukti untuk mendukung kebiasaan digital sehat," ujar Ibrahim. Kita butuh kebijakan yang melindungi fungsi emosional anak-anak kita.
Momentum 10 Juni ini adalah waktu tepat untuk lebih peka. Perhatikan apakah asupan digital Anda justru membuat Anda mudah merasa lelah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....