Bijak Bermedsos: Lindungi Mental Remaja di 10 Juni
- 07 Jun 2026 17:16 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Media sosial seringkali membuat remaja merasa cemas dan kurang percaya diri. Hal ini terungkap dalam riset mendalam yang dirilis oleh laman Child Mind Institute.
Selamat Hari Media Sosial Indonesia untuk Anda para orang tua hebat! Momen 10 Juni ini menjadi pengingat penting bagi kesehatan mental keluarga.
Anak muda zaman sekarang sangat mahir berselancar di dunia maya. Namun, komunikasi lewat layar ternyata menghilangkan kemampuan membaca ekspresi wajah.
"Remaja kehilangan keterampilan sosial yang sangat kritis saat ini," ujar Catherine Steiner-Adair. Psikolog klinis ini menyebutkan bahwa bahasa tubuh kini menjadi tidak terlihat.
Interaksi digital yang tidak langsung ini menciptakan batasan komunikasi nyata. Anak menjadi takut untuk berbicara langsung karena merasa terlalu intens.
Membangun persahabatan sejati membutuhkan keberanian untuk mengambil risiko secara emosional. Sayangnya, media sosial justru mengajarkan remaja untuk selalu menjaga gengsi.
Data dari Royal Society for Public Health mendukung kekhawatiran para ahli ini. Platform populer seperti Instagram dan Snapchat terbukti memicu perasaan depresi.
"Anak perempuan lebih rentan membandingkan diri mereka dengan orang lain," kata Catherine Steiner-Adair. Rasa tidak aman seringkali berujung pada tindakan perundungan di dunia maya.
Remaja kini terobsesi pada jumlah pengikut dan tombol suka di unggahan. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam demi menciptakan citra diri yang terlihat sempurna.
Donna Wick, seorang psikolog perkembangan, menyebut fenomena ini sebagai sindrom penipu. Ada kesenjangan besar antara siapa mereka sebenarnya dan apa yang ditampilkan.
"Kesenjangan identitas ini membuat remaja merasa sangat kelelahan," tutur Donna Wick. Keinginan untuk selalu terlihat keren di depan publik sungguh menguras energi.
Teknologi ponsel pintar juga membuat remaja tidak pernah benar-benar merasa sendirian. Padahal, setiap manusia membutuhkan waktu tenang untuk mengisi kembali energi emosional.
Jika tidak dibatasi, kondisi ini menjadi lahan subur bagi gangguan kecemasan. Kesepian justru sering muncul di tengah hiruk-pikuk koneksi digital yang semu.
Laman Child Mind Institute menyarankan orang tua untuk memberikan contoh yang baik. Kurangi penggunaan gawai saat Anda sedang berkumpul bersama anak di rumah.
"Jangan masuk ke rumah sambil sibuk membalas surel," ucap Catherine Steiner-Adair. Berikan perhatian penuh kepada anak Anda sebelum mereka berangkat berkegiatan.
Ajaklah anak menekuni hobi nyata seperti musik, olahraga, atau kegiatan sukarelawan. Kepercayaan diri yang sehat muncul dari kemampuan diri, bukan dari pujian daring.
Mari jadikan Hari Media Sosial sebagai momentum kembali ke pelukan keluarga. Interaksi tatap muka adalah kunci utama kesehatan mental yang paling berharga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....