Aku Hindu, Aku Bangga : Bukan Sekadar Identitas
- 06 Okt 2026 15:04 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, I Made Gde Chandra Narayama, mengajak umat Hindu untuk bangga dengan identitas keagamaan mereka sambil menjadikan Dharma sebagai pedoman kehidupan.
- Menjadi Hindu bukan sekadar menunjukkan identitas, tetapi harus diwujudkan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari.
- Pesan ini disampaikan melalui program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar dengan tajuk
RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, I Made Gde Chandra Narayama mengajak umat Hindu untuk bangga terhadap identitas keagamaannya dengan tetap menjadikan Dharma sebagai pedoman kehidupan. Pesan tersebut disampaikan melalui program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar bertajuk “Aku Hindu, Aku Bangga” yang menekankan pentingnya memahami dan menerapkan nilai-nilai Hindu di tengah perkembangan zaman, Selasa, 6 Oktober 2026.
Chandra mengatakan menjadi Hindu bukan sekadar menunjukkan identitas, tetapi juga diwujudkan melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari. “Menjadi Hindu itu bukan sekadar mengucapkan saya Hindu, tetapi mampu menghidupkan nilai-nilai Hindu melalui pikiran, perkataan dan juga perbuatan kita dalam keseharian,” ujarnya.
Menurutnya, kebanggaan sebagai umat Hindu tidak berarti merasa lebih tinggi dibandingkan orang lain, melainkan memahami ajaran dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan. Ia menegaskan, rasa bangga tersebut perlu berjalan seiring dengan rasa syukur karena memiliki ajaran yang mengajarkan keharmonisan dan kedamaian.
Candra menjelaskan, salah satu nilai penting dalam ajaran Hindu tercermin melalui Tri Hita Karana yang mengajarkan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. “Kebanggaan menjadi Hindu itu harus diwujudkan dengan kehidupan yang membawa kedamaian, kasih sayang, toleransi dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Ia menilai perkembangan teknologi dan media sosial memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi, namun juga menghadirkan tantangan bagi kehidupan beragama. Karena itu, umat Hindu diingatkan agar tidak mudah terpengaruh ujaran kebencian, konflik, maupun berbagai informasi negatif di ruang digital.
Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut mengajak umat menjadikan Dharma sebagai kompas dalam menghadapi perkembangan zaman, termasuk ketika menggunakan media sosial. “Di era digital saat ini, informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, namun kemudahan teknologi juga dapat membawa dampak negatif,” ujarnya.
Dalam menggunakan media sosial, umat Hindu juga diingatkan menerapkan prinsip Tri Kaya Parisudha, yakni berpikir, berkata, dan berbuat dengan baik serta benar. Sebelum membagikan informasi, pengguna media sosial diajak memastikan kebenaran informasi, mempertimbangkan niat, serta memikirkan dampaknya bagi orang lain.
“Apakah informasi ini benar, apakah niat saya baik,” kata Chandra, mengingatkan umat agar lebih bijak sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu di media sosial. Ia menambahkan, setiap perkataan di ruang digital juga perlu dipertimbangkan agar tidak menyakiti orang lain dan justru memberikan manfaat.
Chandra menekankan, Dharma tidak cukup hanya dibicarakan atau didiskusikan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, menjalankan kewajiban dengan jujur, berkarya tanpa merugikan orang lain, serta menggunakan media sosial secara bijaksana merupakan bagian dari penerapan Dharma di era modern.
Ia juga mengingatkan umat Hindu agar tidak menjadikan popularitas maupun pujian sebagai tujuan utama dalam berkarya. “Dharma itu bukan hanya kita bicarakan, kita diskusikan, tetapi harus kita laksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari,” ucapnya.
Lebih lanjut, Chandra mengaitkan kebanggaan beragama dengan sikap menghormati keberagaman dan keyakinan orang lain. Menurutnya, semakin seseorang memahami Dharma, semakin besar pula kemampuannya untuk menghargai keberadaan dan perbedaan di tengah masyarakat.
“Bangga menjadi Hindu tidak berarti merendahkan agama lain, justru semakin memahami Dharma semakin mampu menghargai keberadaan orang lain,” jelas Chandra. Ia menegaskan, keteguhan dalam keyakinan tetap harus berjalan bersama sikap toleran dan kehidupan yang harmonis.
Chandra juga mengajak generasi muda memahami bahwa menjadi pribadi yang keren tidak harus mengikuti seluruh tren yang berkembang. “Hidup yang keren itu adalah hidup yang memiliki karakter, keren karena santun dalam berbicara, jujur dalam bekerja, bijak menggunakan media sosial, peduli kepada lingkungan dan menghormati orang lain,” tuturnya.
Ia berharap umat Hindu mampu menunjukkan kebanggaan melalui karakter dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Dharma, bukan hanya melalui nama, pakaian, upacara, maupun tradisi. “Aku Hindu, aku bangga karena memiliki Dharma, bangga karena memiliki ajaran yang luhur dan bangga karena diajarkan untuk menghormati kehidupan,” ungkapnya.
Chandra Narayama menutup pesannya dengan mengajak umat Hindu tetap teguh dalam sraddha, kuat dalam Dharma, santun dalam pergaulan, bijak di dunia digital, serta peduli terhadap lingkungan. “Aku Hindu, aku bangga, aku bersyukur menjadi Hindu, aku hidup dengan Dharma dan aku berkarya untuk keharmonisan,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....