Kramaning Sembah, saat Setiap Gerakan Punya Makna

  • 16 Sep 2026 10:37 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Kramaning sembah merupakan urutan persembahan dalam pemuspan umat Hindu yang memiliki makna spiritual mendalam, bukan sekadar mengikuti tahapan tanpa pemahaman.
  • Istilah kramaning sembah berasal dari kata 'krama' (urutan, rangkaian, tata cara) dan 'sembah' (memuja dan memuji kemuliaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa).
  • Dr. I Nyoman Arya dari Kementerian Agama Kota Denpasar mengajak umat Hindu untuk memahami makna setiap urutan dalam persembahyangan, bukan hanya mengikutinya secara mekanis.

RRI.CO.ID, Denpasar - Kramaning sembah merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pemuspan (persembahyangan) umat Hindu yang tidak hanya berkaitan dengan urutan persembahyangan, tetapi juga memiliki makna spiritual yang perlu dipahami. Penyuluh Agama Hindu dari Kementerian Agama Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Rabu 16 September 2026, mengajak umat untuk tidak sekadar mengikuti tahapan sembahyang, tetapi memahami makna setiap urutan yang dilaksanakan.

Arya menjelaskan, istilah kramaning sembah berasal dari kata “krama” yang berarti urutan, rangkaian, tata cara atau metode, serta “sembah” yang bermakna memuja dan memuji kemuliaan serta keagungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Kramaning sembah merupakan suatu hal yang memiliki suatu makna urutan rangkaian persembahan,” jelasnya.

Menurutnya, pemahaman terhadap istilah kramaning sembah perlu diluruskan agar umat tidak keliru dalam menyebut maupun memaknai tahapan persembahyangan. Ia menegaskan, istilah kramaning sembah memiliki cakupan lebih luas dibandingkan istilah panca sembah yang hanya merujuk pada lima tahapan.

“Kalau kita berbicara panca sembah, hanya menukik kepada urutan yang kelima, artinya panca sembah itu hanya memiliki urutan lima tahapan,” ujarnya. Sementara kramaning sembah dapat menyesuaikan jumlah urutan pemuspaan dengan tingkatan upacara yang dilaksanakan.

Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut juga menyoroti pentingnya penggunaan bahasa yang tepat dalam memberikan tuntunan persembahyangan kepada umat. Menurutnya, penggunaan istilah yang tidak tepat dapat mengaburkan makna informasi dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dalam pelaksanaan upacara.

“Memang kita tidak pungkiri hal ini semua terjadi, karena untuk memaknai sesuatu istilah harus betul-betul tahu struktur daripada bahasa Jawa Kuno, termasuk juga struktur daripada bahasa Balinya,” katanya. Karena itu, petugas pengenter upacara dinilai perlu memahami bahasa dan istilah yang digunakan agar pesan keagamaan dapat diterima dengan benar oleh umat.

Dalam penjelasannya, kramaning sembah secara umum terdiri atas beberapa tahapan, mulai dari sembah puyung, sembah ke hadapan Siwa Aditya, sembah kepada dewa yang dipuja pada hari tersebut, sembah kepada para dewa untuk memohon anugerah, hingga kembali kepada sembah puyung. Setiap tahapan tersebut memiliki tujuan dan makna tersendiri sehingga tidak semestinya hanya dilakukan sebagai gerakan tanpa pemahaman.

Pada sembah puyung, misalnya, umat diarahkan untuk memahami konsep kesunyian dan penyucian diri sebelum memulai persembahyangan. “Sembah puyung adalah mencari hakikat di dalam kehidupan kita, adalah Sang Hyang Atma,” jelas Arya.

Ia juga menjelaskan bahwa tahapan sembah kepada Siwa Aditya berkaitan dengan pemahaman mengenai penerangan dalam kehidupan. Menurutnya, pemahaman tersebut perlu ditempatkan secara tepat agar umat tidak hanya menghafal istilah, tetapi mengetahui dasar makna yang terkandung di dalamnya.

Tahapan berikutnya berkaitan dengan tempat pelaksanaan pemuspan dan manifestasi Tuhan yang dipuja sesuai dengan tempat serta tujuan persembahyangan. Arya mencontohkan, pemujaan di beberapa tempat suci dapat memiliki manifestasi yang berbeda sesuai dengan fungsi dan keberadaan tempat tersebut.

Sementara itu, sembah kepada para dewa untuk memohon anugerah dimaknai sebagai berkumpulnya para dewa di tempat yang tinggi. “Sama daya artinya berkumpulnya para Dewa di tempat tertinggi,” ungkapnya, seraya mengingatkan agar pemahaman terhadap istilah tersebut tidak dilepaskan dari makna spiritualnya.

Menurut Arya, jumlah urutan dalam kramaning sembah juga tidak selalu sama pada setiap pelaksanaan upacara. “Tidak sekadar kita melaksanakan daripada kramaning sembah hanya berpatokan kepada panca sembah, bisa berubah, misalnya upakaranya tatur, maka pemuspannya ditambah empat sehingga menjadi sembilan urutan,” jelasnya.

Ia kemudian menjelaskan makna sikap tangan saat melakukan pemuspan yang menggambarkan hubungan antara unsur akasa dan pertiwi. Kedua tangan yang dipertemukan, kemudian diisi bunga, memiliki simbol kehidupan dan menjadi bagian penting dalam memahami gerakan persembahyangan.

“Naik turun tangan ini memberikan suatu makna di dalam kehidupan kita, yang itu adalah memohon penyatuan antara akasa dan kelawan pertiwi,” katanya. Posisi tangan yang diangkat hingga sejajar dengan Siwa Dwara juga memiliki makna sebagai simbol pintu menuju kesadaran spiritual dalam diri manusia.

Arya menjelaskan, Siwa Dwara dimaknai sebagai pintu Siwa, sementara bentuk tangan dalam persembahyangan menggambarkan konsep Tri Kona yang berkaitan dengan penciptaan, pemeliharaan dan peleburan. “Dengan dasar ini kita akan lebih memahami, lebih memaknai, tidak sekadar tangan naik turun tanpa makna,” ujarnya.

Ia menekankan, pemahaman terhadap kramaning sembah menjadi penting agar pelaksanaan persembahyangan tidak berhenti pada rutinitas. Setiap gerakan, urutan dan mantra diharapkan dapat membawa umat pada kesadaran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Dalam pelaksanaan pemuspan, umat juga diingatkan untuk mendekatkan diri kepada objek pemujaan selama kondisi memungkinkan. “Mendekatlah kepada yang kita puja,”ujarnya, seraya menjelaskan bahwa apabila terdapat kondisi yang tidak memungkinkan, pelaksanaan persembahyangan dari jarak tertentu tetap dapat dilakukan dengan penuh kesadaran.

Sebagai penutup, Dr. I Nyoman Arya mengajak umat untuk memahami kramaning sembah secara utuh dan tidak hanya mengikuti kebiasaan yang berkembang di masyarakat. “Minimal memberikan suatu edukasi, memberikan suatu pemahaman baru, sehingga hal-hal yang keliru tidak terus diteruskan dan menjadi suatu kebenaran berdasarkan daripada pendapat masing-masing,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....