Kemana Perginya Panca Maha Bhuta setelah Ngaben?

  • 19 Agt 2026 15:19 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Upacara Ngaben memiliki makna spiritual mendalam tentang pengembalian unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya, bukan sekadar prosesi pembakaran jenazah.
  • Panca Maha Bhuta terdiri atas lima unsur yaitu Pertiwi, Apah, Teja, Bayu, dan Akasa yang merupakan bagian dari pembentukan tubuh manusia dan terdapat dalam alam semesta.
  • Program Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar menghadirkan diskusi filosofis dengan narasumber Ajik Tibah dan Beli Kejoer pada Rabu, 19 Agustus 2026.

RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran Obrolan Galang Kangin di Pro 4 RRI Denpasar, membahas makna filosofis upacara Ngaben yang berkaitan dengan pengembalian unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya, bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer, Rabu, 19 Agustus 2026. Dalam obrolan tersebut dijelaskan bahwa Ngaben bukan sekadar prosesi pembakaran jenazah, tetapi memiliki makna spiritual tentang mengembalikan unsur-unsur pembentuk tubuh manusia kepada alam semesta.

Tibah menjelaskan Panca Maha Bhuta terdiri atas lima unsur, yakni Pertiwi, Apah, Teja, Bayu, dan Akasa, yang menjadi bagian dari pembentukan tubuh manusia sekaligus terdapat dalam alam semesta. “Panca Maha Bhuta kembali ke asalnya, Pertiwi kembali ke Pertiwi, Teja kembali ke Teja, dan unsur lainnya juga kembali ke asalnya,” ujarnya.

Menurutnya, tubuh manusia tersusun dari berbagai unsur alam sehingga ketika kehidupan berakhir, unsur tersebut dikembalikan melalui proses yang memiliki makna filosofis dan spiritual. “Karena tubuh kita, bahan dan komponennya berasal dari unsur-unsur Panca Maha Bhuta, maka dalam Ngaben unsur-unsur itu dikembalikan kepada asalnya,” ucap Ajik Tibah.

Dalam pembahasannya, proses pengembalian unsur tersebut dipahami sebagai perubahan dari bentuk yang lebih kasar menuju bentuk yang lebih halus. “Mengembalikan itu dari kasar ke alus, dari bentuk yang tampak menuju bentuk yang lebih halus,” katanya, seraya menjelaskan bahwa proses tersebut menjadi bagian penting dalam pemaknaan upacara Ngaben.

Sementara Kejoer menambahkan, pembakaran dalam Ngaben tidak semata-mata dipahami sebagai proses menggunakan api secara fisik, tetapi juga memiliki pemaknaan terhadap proses alamiah penguraian unsur-unsur tubuh. “Yang membakar bukan hanya api, tetapi panas bumi juga memiliki peran dalam proses alamiah tersebut,” jelasnya.

Pembahasan tersebut juga menekankan pentingnya umat Hindu memahami makna di balik setiap tahapan upacara agar pelaksanaan ritual tidak berhenti pada aspek seremonial. Tibah mengatakan, “Kita tidak boleh hanya melakukan sesuatu yang belum kita pahami, sehingga penting untuk mengetahui makna dan proses yang ada dalam ajaran agama,"ucapnya.

Menurut Tibah, pemahaman terhadap filosofi Ngaben perlu terus diberikan kepada generasi muda agar mereka mampu melihat ritual keagamaan secara lebih kritis dan mendalam. “Anak-anak sekarang semakin kritis dan banyak bertanya, maka kita harus mampu memberikan jawaban berdasarkan pemahaman agama, bukan sekadar mengatakan bahwa itu sudah menjadi tradisi,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan, proses Ngaben juga berkaitan dengan pemahaman bahwa unsur-unsur kehidupan pada akhirnya akan kembali kepada alam, sementara unsur yang bersifat lebih halus memiliki perjalanan spiritual tersendiri. “Pada akhirnya, yang kasar kembali ke alam dan yang halus menuju pada proses penyatuan dengan Sang Pencipta,” kata Kejoer.

Keduanya sepakat, mengajak masyarakat memahami Ngaben sebagai bagian dari ajaran Hindu yang mengandung nilai filosofis mengenai kehidupan, kematian, alam, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Pemahaman tersebut diharapkan membuat umat tidak hanya menjalankan upacara secara turun-temurun, tetapi juga mampu menghayati makna spiritual di balik setiap prosesi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....