Bukan Sekadar Banten, Ini Hakikat Persembahan dalam Hindu
- 20 Agt 2026 07:03 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Banten adalah sarana, bukan tujuan utama dalam menjalankan yadnya dan mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
- Umat Hindu perlu memahami nilai dan makna yang terkandung dalam banten, bukan hanya fokus pada bentuk persembahan lahiriah.
- Pemahaman agama perlu terus didalami agar pelaksanaan yadnya tidak sekadar menjadi rutinitas tanpa makna spiritual yang mendalam.
RRI.CO.ID, Denpasar - Obrolan Galang Kangin, Kamis 20 Agustus 2026, mengangkat tema “Banten Hanya Sarana” bersma Ajik Tibah dan Beli Kejoer, mengajak umat Hindu memahami makna banten sebagai sarana dalam menjalankan yadnya dan mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam perbincangan tersebut ditegaskan, “banten bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk menyampaikan rasa bhakti dan ketulusan umat.”
Pembahasan juga mengingatkan agar umat tidak berhenti pada aspek lahiriah atau bentuk persembahan semata, tetapi memahami nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. “Semakin dipelajari, semakin banyak yang belum kita ketahui,” ungkap Tibah, menjadi salah satu penekanan bahwa pemahaman agama perlu terus didalami agar pelaksanaan yadnya tidak sekadar menjadi rutinitas.
Besar kecilnya banten tidak akan menentukan utama atau sahnya sebuah yadnya, karena esensi persembahan dalam ajaran Hindu bersumber dari ketulusan niat, keikhlasan, serta kesucian hati orang yang menghaturkannya. Volume atau besar kecilnya sarana upakara tidak menjadi penentu kualitas spiritual persembahan, karena kualitas persembahan dinilai dari kesucian batin.
Banten pada hakikatnya menjadi media untuk mengekspresikan rasa syukur, bhakti, dan ketulusan kepada Tuhan, sekaligus mengajarkan umat untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Karena itu, pelaksanaan persembahan hendaknya dilakukan dengan kesadaran, bukan hanya mengikuti kebiasaan tanpa memahami maknanya.
Melalui tema tersebut, Obrolan Galang Kangin mengajak umat Hindu untuk melihat kembali tujuan dari setiap pelaksanaan yadnya. “Yang terpenting bukan semata-mata bentuk bantennya, tetapi ketulusan dan kesadaran dalam mempersembahkannya,” ucap Kejoer menutup obrolan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....