Memahami Lima Keyakinan Panca Srada dari Brahman hingga Moksa

  • 21 Sep 2026 11:25 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Panca Srada terdiri dari lima keyakinan utama dalam agama Hindu: Brahman, Atman, Karmapala, Samsara atau Punarbawa, dan Moksa.
  • Panca Srada menjadi dasar keyakinan umat Hindu dalam memahami dan menjalankan ajaran agama secara menyeluruh.
  • Panca Srada memperkuat pelaksanaan Tri Kerangka Agama Hindu yang meliputi Tatwa (filsafat), Susila (etika), dan Acara (ritual).

RRI.CO.ID, Denpasar - Panca Srada menjadi dasar keyakinan umat Hindu dalam memahami dan menjalankan ajaran agama, sekaligus memperkuat pelaksanaan Tri Kerangka Agama Hindu yang meliputi Tatwa, Susila dan Acara. Hal tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ngurah Darma Putra, dalam program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Minggu, 20 September 2026.

Darma Putra menjelaskan, Panca Srada terdiri atas lima keyakinan utama, yakni Brahman, Atman, Karmapala, Samsara atau Punarbawa, dan Moksa. “Dasar keyakinan ini terdiri dari lima aspek yang disebut dengan Panca Srada,” ujarnya.

Keyakinan pertama adalah Brahman, yaitu kepercayaan terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber segala sesuatu dan realitas tertinggi. Brahman dalam pemahamannya dapat dipandang sebagai Nirguna Brahman yang tidak memiliki atribut maupun bentuk serta Saguna Brahman yang dapat dipuja melalui berbagai nama dan manifestasi.

Keyakinan kedua adalah Atman yang dipahami sebagai percikan terkecil dari Brahman yang terdapat dalam setiap makhluk hidup. “Atman disebut sebagai percikan terkecil dari Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang ada di dalam setiap tubuh makhluk hidup,” jelasnya.

Selanjutnya, Karmapala mengajarkan bahwa setiap perbuatan manusia akan menghasilkan akibat yang sesuai dengan perbuatan tersebut, baik maupun buruk. Ngurah Darma Putra menerangkan Karmapala terbagi menjadi Sancita Karmapala, Prarabdha Karmapala dan Kriyamana Karmapala sesuai waktu diterimanya hasil perbuatan.

Keyakinan berikutnya adalah Samsara atau Punarbawa, yaitu kepercayaan terhadap kelahiran kembali yang berlangsung karena Atman masih diliputi keinginan dan keterikatan duniawi. Menurutnya, Punarbawa tidak semata-mata harus dipandang sebagai sesuatu yang negatif karena dapat menjadi kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki karma dan menyempurnakan diri.

“Melalui Punarbawa manusia bisa memperbaiki karma atau perbuatannya, menebus kesalahan di masa lalu dan menyempurnakan diri hingga akhirnya tidak perlu lahir kembali atau disebut sudah mencapai moksa,” katanya. Sementara itu, Moksa merupakan keyakinan mengenai tujuan akhir kehidupan berupa pembebasan dari siklus kelahiran kembali dan penyatuan dengan Brahman.

Pemahaman Panca Srada kemudian memperkuat Tri Kerangka Agama Hindu yang terdiri dari Tatwa, Susila dan Acara. “Panca Srada akan dapat memperkuat prinsip dasar atau kerangka dasar agama ini, yaitu Tatwa, Susila dan Acara,” ungkap Darma Putra.

Melalui Tatwa atau filsafat, umat Hindu tidak hanya meyakini ajaran agama, tetapi juga memahami alasan dan makna di balik Brahman, Atman, Karmapala, Punarbawa dan Moksa. “Umat Hindu dapat menghayati dan mengamalkan Panca Srada secara lebih sadar, mendalam dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Dalam memahami Tatwa secara logis dan berdasarkan ajaran suci, umat Hindu juga dapat mengenal Tri Pramana yang terdiri dari Pratyaksa Pramana, Anumana Pramana dan Agama Pramana. Ketiga cara memperoleh pengetahuan tersebut membantu umat memahami kebenaran melalui pengamatan langsung, tanda atau gejala, serta sumber-sumber yang dapat dipercaya seperti kitab suci Weda.

Kerangka kedua adalah Susila atau etika yang berkaitan dengan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari. “Susila adalah tingkah laku manusia yang baik,” kata Ngurah Darma Putra, seraya menjelaskan bahwa Susila mengatur hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan alam dalam konsep Tri Hita Karana.

Ajaran Tat Twam Asi juga menjadi bagian penting dalam membangun perilaku yang selaras karena mengajarkan bahwa diri sendiri dan orang lain memiliki kesatuan hakikat. “Menolong orang lain berarti menolong diri sendiri dan sebaliknya menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri,” jelasnya.

Selain Tatwa dan Susila, Tri Kerangka Agama Hindu juga mencakup Acara atau upacara yang diwujudkan melalui berbagai bentuk persembahan dan doa. Pelaksanaan Yadnya hendaknya dilakukan dengan tulus dan ikhlas serta disesuaikan dengan kemampuan, tempat, waktu dan keadaan atau desa, kala, patra.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gianyar tersebut mengingatkan, pelaksanaan Yadnya tidak hanya berkaitan dengan sarana dan ritual, tetapi juga mengandung nilai memuja, menghormati, berkorban, mengabdi, berbuat baik serta memberikan sesuatu dengan penuh kerelaan. “Yadnya adalah korban suci yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas dan didasari kesucian hati,” tuturnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan kehidupan beragama juga perlu dilandasi nilai Satyam atau kebenaran, Dharma atau kebajikan, Sewaka atau pelayanan, Santih atau kedamaian, Ahimsa atau tanpa kekerasan, serta Prema atau cinta kasih. Dengan memahami Panca Srada sekaligus mengamalkannya melalui Tatwa, Susila dan Acara, umat Hindu diharapkan mampu menjalankan kehidupan beragama secara lebih sadar, harmonis dan bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....