Apa yang Sebenarnya Dicari saat Kita Sembahyang?
- 19 Agt 2026 15:17 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Program Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar membahas makna mendalam sembahyang dalam agama Hindu, bukan hanya sekadar rutinitas ibadah.
- Penyuluh Agama Hindu Ni Luh Putu Parwati menjelaskan bahwa sembahyang merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, menyucikan pikiran, menenangkan hati, dan membangun kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
- Dalam ajaran Hindu, sembahyang dikenal sebagai puja atau upasana yang merupakan bentuk penghormatan dan pengabdian kepada Tuhan serta jembatan antara manusia dengan alam semesta.
RRI.CO.ID, Denpasar – Program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, mengangkat tema “Tujuan Sembahyang dalam Agama Hindu” yang disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Luh Putu Parwati, Rabu 19 Agustus 2026. Dalam pembahasannya, Parwati mengajak umat Hindu memahami sembahyang bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, menyucikan pikiran, menenangkan hati, serta membangun kesadaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
“Sembahyang bukanlah rutinitas kosong, ia adalah wujud hidup spiritual, pintu masuk untuk mengenal Tuhan dan jembatan antara manusia dengan alam semesta,” ujar Parwati. Ia menjelaskan, dalam ajaran Hindu sembahyang dikenal sebagai puja atau upasana yang pada hakikatnya merupakan bentuk penghormatan dan pengabdian kepada Tuhan.
Menurutnya, tujuan utama sembahyang adalah mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagaimana konsep Tri Kaya Parisudha. “Dengan mengucapkan mantra suci, kita menyucikan kata; dengan hening dan konsentrasi, kita menyucikan pikiran; dan dengan tangan yang menyembah serta bunga yang kita persembahkan, kita menyucikan tindakan,” jelasnya.
Sembahyang juga menjadi bentuk rasa syukur atas kehidupan, udara, air, makanan, dan kesempatan yang diberikan Tuhan, sekaligus menjadi sarana memohon tuntunan agar manusia senantiasa berjalan sesuai Dharma. Ia menegaskan, nilai sebuah persembahan tidak ditentukan oleh besar kecilnya sarana yang digunakan, melainkan oleh ketulusan hati dan kesadaran orang yang mempersembahkannya.
Dalam konteks Tri Hita Karana, sembahyang berperan menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan atau Parahyangan, yang kemudian diharapkan dapat memperkuat keharmonisan dengan sesama dan alam. “Yang penting adalah niat dan kesadaran spiritual,” katanya, sembari menjelaskan sembahyang dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan, baik di pura, rumah, maupun secara pribadi melalui keheningan hati.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut juga menyebutkan sejumlah bentuk sembahyang dalam kehidupan umat Hindu, mulai dari Tri Sandhya yang dilakukan tiga kali sehari hingga persembahyangan pada hari-hari suci seperti Purnama, Tilem, Galungan, Kuningan, Saraswati, dan Nyepi. Menurutnya, waktu-waktu tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran spiritual dan mengingat kembali hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, sembahyang terkadang dianggap sebagai beban karena keterbatasan waktu. “Lima menit yang tulus lebih bernilai daripada satu jam tanpa kesadaran,” ucapnya, seraya mengingatkan bahwa sembahyang tidak harus dilakukan dalam waktu lama, tetapi perlu dilandasi ketulusan dan konsentrasi.
Ia menambahkan, sembahyang dapat memberikan ketenangan batin, meningkatkan kesadaran terhadap setiap pikiran, perkataan, dan tindakan, serta membantu manusia menjaga keharmonisan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Karena itu, sembahyang hendaknya tidak hanya dilakukan ketika manusia membutuhkan sesuatu dari Tuhan, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur, perenungan, dan upaya memperkuat jiwa.
Menutup pembahasannya, Parwati mengajak umat Hindu memulai praktik sembahyang dari hal sederhana dengan meluangkan waktu setiap hari untuk duduk tenang, mengucapkan Om, bersyukur atas kehidupan, dan memanjatkan doa dengan hati yang bersih. “Sembahyang bukan tentang seremoni yang mewah, tetapi tentang keheningan hati yang suci,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....