Susila, Kunci Menjaga Harmoni Manusia dengan Alam dan Tuhan

  • 15 Sep 2026 10:55 WIB
  •  Denpasar
Poin Utama
  • Susila dalam agama Hindu adalah pedoman penting yang berasal dari bahasa Sanskerta dengan makna tingkah laku baik dan benar sesuai prinsip Dharma.
  • Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar menekankan pentingnya menerapkan Susila untuk membangun keharmonisan antara manusia, sesama, alam, dan Tuhan.
  • Ajaran Susila menjadi fondasi bagi umat Hindu dalam menjalankan kehidupan yang selaras dengan kebenaran dan nilai-nilai religius yang luhur.

RRI.CO.ID, Denpasar - Ajaran Susila dalam agama Hindu menjadi pedoman penting bagi umat dalam menjalankan kehidupan yang selaras dengan Dharma atau kebenaran. Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, Ni Luh Putu Purwati, dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Sabtu, 12 September 2026, menyampaikan pentingnya menerapkan Susila untuk membangun keharmonisan antara manusia, sesama, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Mengawali acara, Purwati menjelaskan bahwa Susila berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari kata “su” yang berarti baik dan “sila” yang berarti tingkah laku. Dengan demikian, Susila dimaknai sebagai pedoman dalam bertingkah laku secara baik dan benar sesuai dengan prinsip Dharma.

“Susila itu adalah pedoman tingkah laku, pedoman dalam bertingkah laku yang baik dan benar,” ujarnya. Menurutnya, ajaran Susila harus dibangun di atas dasar agama dan Dharma agar menjadi landasan yang kuat dalam kehidupan manusia.

Ia mengibaratkan agama sebagai fondasi sebuah bangunan yang harus kokoh agar bangunan tersebut tidak mudah roboh. “Jika tata susila sudah dibangun atas dasar Dharma, atas dasar agama sebagai landasannya yang kokoh dan kekal, maka tata Susila itu akan mendalam dan meresap dalam pribadi setiap insan,” ucapnya.

Menurutnya, manusia memiliki keistimewaan karena dianugerahi kemampuan untuk membedakan perbuatan yang baik dan buruk. Kemampuan tersebut hendaknya digunakan untuk mengubah perbuatan buruk menjadi perbuatan baik serta mengisi kehidupan dengan tindakan yang bermanfaat.

Purwati mengingatkan agar kesempatan terlahir sebagai manusia tidak disia-siakan untuk melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan Dharma. “Janganlah sia-siakan kesempatan lahir sebagai manusia untuk berbuat baik,” tegasnya.

Salah satu ajaran Susila yang penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah Tri Kaya Parisudha, yakni penyucian tiga aspek perbuatan manusia yang meliputi pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ketiganya menjadi dasar pembentukan karakter sekaligus mendukung tercapainya kebahagiaan lahir dan batin.

Pada aspek Manacika, umat diajarkan untuk menjaga pikiran agar tetap baik, bersih, dan bebas dari niat buruk. “Selalu berpikir yang positif dan selalu bersyukur atas karunia hidup ini,” menjadi salah satu contoh penerapan Manacika dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Wacika berkaitan dengan perkataan yang baik dengan menghindari kebiasaan mencaci, memfitnah, berbohong, maupun berkata kasar. Menurut Purwati, berkata jujur dan menjaga tutur kata merupakan bagian penting dalam menciptakan hubungan yang harmonis dengan sesama.

Aspek Kayika mengajarkan manusia untuk melakukan perbuatan yang baik dan benar serta tidak menyakiti makhluk lain. “Melakukan perbuatan luhur, berbuat baik dan menolong antarsesama,” merupakan bentuk penerapan Kayika yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain Tri Kaya Parisudha, umat juga perlu menjauhi perilaku yang bertentangan dengan kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Perilaku tersebut antara lain pikiran buruk, perkataan kasar atau penuh kebohongan, serta tindakan yang dapat merugikan dan menyakiti orang lain.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gianyar tersebut menekankan bahwa penerapan Susila tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam dan Tuhan. “Dengan menerapkan Tri Kaya Parisudha dan menjauhkan diri dari perilaku yang tidak baik, maka kita dapat menjalani kehidupan yang sesuai dengan Dharma,” ungkapnya.

Menurutnya, penerapan Susila dapat menciptakan kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus mendukung terciptanya kesejahteraan atau Jagatdhita. Kehidupan yang seimbang dapat diwujudkan ketika manusia mampu menjaga hubungan harmonis dengan diri sendiri, sesama, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Ajaran Susila juga mengarahkan manusia untuk mencapai kesempurnaan diri dan kedamaian melalui perilaku yang baik. Pada akhirnya, nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari perjalanan spiritual manusia menuju pembebasan rohani.

Dalam kehidupan sehari-hari, Susila dapat diwujudkan melalui tindakan kasih sayang, seperti memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan. “Berinteraksi dengan bijak, menjaga keharmonisan dalam komunikasi dan hubungan sosial antara sesama,” menjadi salah satu bentuk penerapan Susila yang sederhana namun memiliki dampak besar.

Purwati juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan diri sebagai bagian dari pembentukan kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Menurutnya, pembenahan diri harus menjadi prioritas agar sifat-sifat baik dan mulia dapat semakin berkembang dalam diri manusia.

“Ajaran Susila hendaknya diterapkan di dalam kehidupan kita di dunia ini, karena di dunia inilah tempat kita berkarma,” pungkasnya. Penerapan Susila secara konsisten diharapkan mampu membentuk manusia yang berkarakter, harmonis, serta mampu menjaga keTuhan,seimbangan kehidupan dengan sesama, alam, dan Tuhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....