Duka Bukan Musuh, Begini Cara Menjadikannya Guru Kehidupan
- 12 Agt 2026 20:32 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Program Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar mengangkat tema 'Bersahabat dengan Duka' sebagai upaya meningkatkan pemahaman pendengar tentang keseimbangan kehidupan.
- Penyuluh Agama Hindu Ni Ketut Suarniti menyampaikan bahwa suka dan duka merupakan dua sisi yang saling berlawanan namun tidak terpisahkan dalam perjalanan hidup manusia.
- Materi edukasi menekankan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan, karena hanya memiliki satu sisi saja akan menyebabkan ketidakseimbangan dan ketidakharmonisan.
RRI.CO.ID, Denpasar – Program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar mengangkat tema “Bersahabat dengan Duka” yang disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Ketut Suarniti, Rabu, 12 Agustus 2026. Materi tersebut mengajak pendengar memahami bahwa suka dan duka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Suarniti mengatakan, kehidupan manusia selalu berjalan dalam dua sisi yang berlawanan, seperti kebahagiaan dan kesedihan, keuntungan dan kerugian, serta pertemanan dan permusuhan. “Jika hanya satu bagian yang ada, kehidupan menjadi tidak seimbang, karena suka dan duka akan selalu menyertai perjalanan manusia,” ujarnya.
Menurutnya, setiap orang pasti pernah mengalami kesedihan atau penderitaan, terlepas dari kondisi ekonomi maupun kesempurnaan hidup yang dimiliki. Karena itu, duka sebaiknya tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari, melainkan menjadi bagian kehidupan yang perlu dihadapi dengan bijaksana.
Ia menjelaskan, penyebab duka dapat berasal dari dua faktor, yakni dari dalam diri dan dari luar diri. Faktor dari dalam diri antara lain ego, pikiran, dan keinginan yang tidak terkendali, sedangkan faktor dari luar dapat muncul akibat perkataan maupun perilaku orang lain.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut menekankan pentingnya mengendalikan pikiran karena pikiran menjadi sumber yang memengaruhi berbagai tindakan manusia. “Pikiran harus diusahakan pengendaliannya, karena pikiran yang tidak terkendali dapat membawa seseorang pada perbuatan baik maupun buruk,” jelasnya.
Untuk melatih pengendalian pikiran dan emosi, ia menyarankan umat melakukan latihan secara bertahap melalui kegiatan spiritual. “Pengendalian emosi dapat dilatih melalui namasmaranam, meditasi, serta pranayama atau latihan pernapasan,” katanya.
Menurutnya, pernapasan memiliki peran penting dalam membantu menenangkan pikiran dan mengendalikan emosi. Dengan latihan pernapasan yang teratur, seseorang akan lebih mudah menjaga ketenangan ketika menghadapi berbagai persoalan.
Selain mengendalikan diri, menghadapi perilaku negatif orang lain juga membutuhkan kesabaran dan kemampuan untuk memaafkan. Ni Ketut Suarniti mengingatkan bahwa membalas kebencian dengan kebencian hanya akan membuat seseorang berada pada kualitas yang sama dengan orang yang membencinya.
Ia mengibaratkan perkataan atau perlakuan negatif dari orang lain sebagai sebuah pemberian yang tidak harus diterima. “Jika pemberian itu ditolak, maka pemberian tersebut akan kembali kepada orang yang memberikan,” ungkapnya.
Menurutnya, memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tetapi menjadi cara untuk menjaga pikiran agar tidak terus dibebani kemarahan dan kebencian. Dengan tidak memasukkan hal-hal negatif ke dalam pikiran, seseorang justru menunjukkan kualitas diri yang lebih tinggi.
Suarniti juga mengangkat kisah Pandawa dalam Mahabharata yang menghadapi berbagai penderitaan, hinaan, dan cobaan. Berbagai pengalaman tersebut justru menjadi kesempatan bagi Pandawa untuk menjalani kehidupan dengan lebih tenang, menambah ilmu, serta memperoleh pengalaman dan anugerah.
Ia menegaskan bahwa kesabaran merupakan salah satu bentuk kekuatan manusia dalam menghadapi situasi sulit. “Orang yang kehilangan kesabaran adalah orang yang lemah, sedangkan kekuatan manusia sesungguhnya terletak pada kesabaran menghadapi segala situasi,” ucapnya.
Duka dan penderitaan, menurut Suarniti, dapat diibaratkan seperti proses pembentukan emas menjadi perhiasan yang indah. “Penderitaan dan kesedihan akan mengasah mental dan jiwa kita untuk menjadi lebih kuat dan dewasa,” jelasnya.
Melalui pengalaman sulit, karakter positif dalam diri manusia diharapkan semakin tumbuh dan mampu mengikis sifat-sifat negatif. Untuk itu, setiap persoalan perlu dihadapi dengan keikhlasan dan upaya melihat sisi positif serta manfaat yang dapat dipetik dari pengalaman tersebut.
Suarniti mengajak masyarakat menjadikan duka sebagai sahabat karena suka dan duka akan selalu hadir dalam perjalanan kehidupan. “Marilah kita menganggap duka sebagai sahabat, karena duka akan selalu menyertai hidup kita sepanjang masa,” ucapnya.
Ia menambahkan, kehidupan dapat dianalogikan seperti kayu yang hanyut mengikuti aliran sungai hingga akhirnya mencapai laut meskipun harus melewati berbagai kelokan dan hambatan. Dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan kepada Tuhan, setiap manusia diyakini mampu melewati berbagai ujian dan pada akhirnya mencapai tujuan kehidupannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....