Kesabaran dan Pengendalian Diri Merupakan Kekuatan Sejati Manusia

  • 15 Apr 2026 07:04 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Ketut Suarniti, dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar ediasi Rabu, 15 April 2026 menyampaikan bahwa kehidupan manusia tidak pernah lepas dari dinamika suka dan duka. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi dalam perjalanan hidup.

Suarniti menegaskan bahwa setiap manusia, tanpa memandang status dan kondisi, pasti pernah mengalami kesedihan maupun penderitaan. Bahkan dalam kisah-kisah spiritual, para dewa pun mengalami siklus suka dan duka, namun mampu mengendalikannya dengan ketenangan batin.

"Penyebab duka berasal dari dua faktor, yakni dari dalam diri dan dari luar diri manusia," paparnya. Ia menyebutkan, faktor internal meliputi pikiran, keinginan, dan ego yang tidak terkendali sehingga memicu ketidakpuasan dan penderitaan.

Suarniti mengungkapkan, bahwa pikiran yang tidak stabil dapat mendorong seseorang pada perbuatan baik maupun buruk sehingga perlu dikendalikan dengan disiplin spiritual. Latihan seperti meditasi, pengaturan napas, serta pengucapan nama Tuhan secara terus-menerus menjadi cara efektif untuk menenangkan pikiran.

Sementara itu, faktor eksternal berasal dari sikap dan perilaku orang lain yang dapat menimbulkan kekecewaan dan kemarahan. Dalam menghadapi hal tersebut, sikap memaafkan dan tidak membalas kebencian menjadi kunci untuk menjaga ketenangan diri.

Ia mengibaratkan perlakuan buruk sebagai sebuah pemberian yang jika tidak diterima, akan kembali kepada pemberinya. Dengan demikian, seseorang yang mampu mengabaikan hal negatif akan terhindar dari gangguan pikiran dan emosi yang merugikan diri sendiri.

"Dalam ajaran dharma, kesabaran dan pengendalian diri merupakan kekuatan sejati manusia," ungkap Suarniti. Ia menambahkan, bahwa orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan dinilai memiliki kualitas diri yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang dikuasai emosi.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut juga mengajak umat untuk memandang duka sebagai guru kehidupan yang membentuk karakter dan kedewasaan. Penderitaan diibaratkan seperti proses pemurnian emas yang menjadikannya lebih bernilai dan indah.

Ia menekankan pentingnya sikap ikhlas serta kemampuan melihat sisi positif dalam setiap permasalahan. Dengan demikian, setiap pengalaman pahit dapat menjadi sarana pembelajaran dan penguatan mental spiritual.

Mengakhiri pesannya, ia mengajak masyarakat untuk tetap teguh pada keyakinan kepada Tuhan serta berusaha melakukan kebaikan dalam setiap keadaan. Dengan sikap tersebut, duka tidak lagi menjadi beban, melainkan sahabat yang mengantarkan manusia menuju kebijaksanaan dan kebahagiaan sejati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....