Tradisi atau Agama? Ini Benang Merah yang Sering Kabur
- 24 Jun 2026 10:31 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar — Persembahan banten dalam kehidupan umat Hindu di Bali tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara tradisi dan agama. Namun demikian, keduanya memiliki pengertian yang berbeda meskipun saling mendukung dalam praktik kehidupan beragama.
Hal itu disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, dalam siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 23 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa tradisi merupakan kebiasaan yang berkembang di masyarakat, sedangkan agama berlandaskan pada keyakinan dan ajaran yang bersumber dari sastra suci.
“Tradisi merupakan suatu kebiasaan, sedangkan agama adalah wujud dari keyakinan yang berlandaskan sastra agama,” ujarnya. Menurutnya, pemahaman yang tepat mengenai perbedaan keduanya penting agar umat tidak mencampuradukkan antara nilai agama dan kebiasaan yang berkembang di masyarakat.
Ia menerangkan bahwa banten merupakan sarana persembahan yang berkaitan erat dengan pelaksanaan upacara keagamaan Hindu. Dalam praktiknya, masyarakat sering menyamakan banten dengan canang, meskipun tidak semua jenis banten dapat disebut canang.
Arya juga menjelaskan bahwa berbagai unsur dalam canang memiliki makna filosofis yang mendalam. Misalnya, porosan yang terdiri dari daun sirih, pinang, dan kapur melambangkan konsep Trimurti dalam ajaran Hindu.
“Dalam praktik keagamaan, banten atau canang sari sering dikaitkan dengan istilah wali yang bermakna persembahan suci,” katanya. Ia menambahkan bahwa istilah tersebut telah menjadi bagian penting dalam tradisi ritual masyarakat Hindu Bali.
Lebih lanjut, ia menyoroti masih rendahnya pemahaman sebagian umat terhadap ajaran agama akibat minimnya minat membaca dan mempelajari sastra keagamaan. Kondisi tersebut berpotensi melahirkan sikap fanatik sempit yang menganggap perbedaan tradisi sebagai suatu kesalahan.
Menurut Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut, ukuran keberhasilan beragama tidak terletak pada kemegahan sarana upacara semata. Persembahan yang dilakukan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan serta dilandasi ketulusan dan keikhlasan.
“Jangan agama ditradisikan, tetapi tradisikanlah agama,” tegasnya. Pernyataan tersebut mengandung makna bahwa nilai-nilai agama yang bersumber dari sastra suci harus menjadi pedoman utama dalam kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan fenomena masyarakat yang terkadang lebih berorientasi pada penilaian sosial dibandingkan makna spiritual dalam membuat banten, penjor, maupun sarana upacara lainnya. Akibatnya, tidak sedikit yang rela mengeluarkan biaya besar demi gengsi tanpa mempertimbangkan kemampuan ekonomi keluarga.
“Kalau sudah sesuai dengan kemampuan, maka akan muncul keikhlasan secara tulus,” ungkapnya. Ia mengingatkan bahwa pelaksanaan yadnya hendaknya membawa kedamaian dan kebahagiaan, bukan justru menimbulkan beban maupun utang.
Pada akhir siaran, Arya mengajak umat Hindu untuk menempatkan tradisi sebagai pendukung pelaksanaan agama, bukan sebaliknya. Dengan keseimbangan tersebut, tradisi dapat tetap lestari tanpa menggeser nilai-nilai agama yang menjadi dasar utama kehidupan spiritual umat Hindu.
Ia berharap masyarakat semakin memahami makna banten sebagai simbol bhakti kepada Tuhan sekaligus warisan budaya yang sarat nilai filosofis. Melalui pemahaman yang benar, tujuan beragama untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin dapat diwujudkan secara harmonis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....