Refleksi Kritis Mebanten, Bukan Aktivitas Ritual Biasa
- 10 Jun 2026 20:27 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Wacana mengenai penyederhanaan upacara keagamaan Hindu, khususnya tradisi mebanten (berupakara) harian, belakangan ini memicu berbagai persepsi di tengah masyarakat. Jika tidak disikapi dengan refleksi kritis berbasis sumber sastra yang akurat, bola liar polemik ini dikhawatirkan dapat memicu kekisruhan dan menurunkan keimanan umat.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H, menyatakan tradisi mebanten bukanlah sekadar aktivitas pasif, melainkan sebuah mekanisme kosmis yang menggerakkan roda kehidupan, sosial, ekonomi, hingga kelestarian lingkungan di Bali. Menanggapi asumsi perlunya penyederhanaan tradisi mebanten, ditegaskan bahwa dalam ajaran agama Hindu sebenarnya sudah terdapat 9 paket pilihan pelaksanaan yadnya, mulai dari tingkatan nista (kecil/sederhana), madya (menengah), hingga utama (besar).
"Umat Hindu secara turun-temurun sudah menjalankan 9 paket pilihan ini sesuai kemampuan (sepatutnya). Jadi, yang sudah sederhana tidak perlu disederhanakan lagi, karena esensinya sudah ada di sana," ujar Nyoman Arya saat di wawancara RRI pada Rabu 10 Juni 2026.
Pelaksanaan yadnya berupa banten merupakan penjabaran dari konsep Sang Hyang Catur Asrama dan siklus alam semesta. Banten adalah gerak kehidupan, sebuah perputaran yadnya yang menghubungkan dimensi sekala (nyata) dan niskala (gaib).
Nyoman Arya menjabarkan jika roda mebanten ini sengaja diperlambat atau dihentikan secara masif, dampaknya akan langsung melumpuhkan berbagai aspek, seperti aspek spiritual dan ekonomi. Ia menjelaskan aspek spiritualitas ini terlihat pada terhentinya aliran energi keselarasan alam semesta.
“Kalau aspek ekonomi terlihat pada menurunnya pendapatan petani bunga, pedagang busung/janur, pedagang buah, hingga pengrajin sarana upacara tradisional yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas yadnya harian.” tegasnya.
Jika berbicara soal sampah, Nyoman Arya menuturkan ibarat permasalahan saluran air, lebih baik perbaiki iipanya, jangan matikan airnya. Kekhawatiran bahwa aktivitas yadnya yang besar memicu penumpukan sampah, sudut pandang tersebut sangat sempit.
Sebagian besar bahan banten adalah bahan organik yang bersumber dari alam dan sangat mudah kembali ke alam. Masalah utama yang muncul saat ini bukanlah bantennya, melainkan keberadaan unsur plastik dan bahan sintetis, serta sistem pengelolaan limbah yang belum bijaksana.
"Jika pipa bocor, jangan salahkan airnya, tetapi perbaiki pipanya yang bocor. Jangan menghentikan sumber air hanya karena salurannya bocor. Begitu pula dengan banten. Jangan hentikan yadnya, tetapi benahi pengelolaan sampahnya," terang Nyoman Arya.
Sebagai jalan tengah, ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga esensi budaya tanpa merusak lingkungan melalui beberapa langkah nyata, seperti tetap menjaga tradisi budaya mebanten harian, mengurangi penggunaan plastik secara signifikan dalam sarana upacara, hingga mengembangkan bank kompos berbasis komunitas/desa adat.
Penyederhanaan upacara harus diartikan secara bijaksana. Sederhana bukan berarti mengurangi esensi, karena esensi sejati terletak pada ketulusan hati, atau lascarya, bukan hanya kemewahan fisik. Sejatinya mebanten adalah roda distribusi kesejahteraan yang berbasis budaya dan spiritualitas. Persoalan sampah bukanlah alasan untuk memperlambat perputaran yadnya itu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....