Remaja Butuh Ruang Aman: Pacaran dan Tekanan Mental

  • 15 Feb 2026 10:51 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Bagi sebagian remaja, pacaran kerap dianggap bagian wajar dari proses tumbuh dewasa. Perhatian, hadiah kecil, hingga unggahan di media sosial menjadi cara mengekspresikan rasa sayang.

Namun ketika relasi itu tidak dibarengi pemahaman dan batas yang sehat, persoalannya bisa berkembang jauh melampaui sekadar urusan hati. Hal ini disampaikan dalam program Rahajeng Bali pada Jumat, 13 Februari 2026, yang menghadirkan Komisioner KPAD Provinsi Bali, Ir. I Made Ariasa, M.Pd., Guru BK SMA Negeri 1 Sukawati Ni Made Ayu Dwi Anggreni, serta perwakilan siswa.

Sejumlah narasumber menyoroti meningkatnya kasus remaja yang berawal dari relasi tidak sehat. Dari kehamilan usia sekolah, penyebaran konten pribadi tanpa izin, hingga percobaan bunuh diri akibat tekanan sosial dan perundungan.

Made Ariasa menyebut fenomena tersebut sebagai dampak dari pemahaman kasih sayang yang masih “abu-abu”. Remaja, menurutnya, sering kali memaknai cinta sebatas pembuktian perasaan, tanpa menyadari konsekuensi emosional dan hukum yang mungkin menyertainya.

“Kasih sayang itu bukan hanya tentang hubungan lawan jenis. Kalau keliru memaknainya, risikonya bisa panjang, tekanan tidak hanya datang dari pasangan, tetapi juga dari lingkungan,” jelas Made Ariasa.

Media sosial kerap memperbesar persoalan. Konflik pribadi yang tersebar luas dapat berubah menjadi perundungan digital, meninggalkan beban psikologis yang berat.

Dalam beberapa kasus, tekanan tersebut mendorong remaja pada tindakan ekstrem. Guru BK SMA Negeri 1 Sukawati, Ni Made Ayu Dwi Anggreni, menegaskan pentingnya menciptakan ruang aman di sekolah. Menurutnya, pendekatan preventif harus dilakukan sebelum masalah membesar.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kolaborasi dengan orang tua, wali kelas, dan seluruh warga sekolah. Yang paling penting, siswa merasa aman untuk bercerita,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa sekolah berupaya membuka komunikasi sejak dini, memantau perubahan perilaku siswa, hingga melakukan pendampingan jika ditemukan indikasi tekanan mental. Namun, peran keluarga tetap menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan emosional anak.

Dari sisi siswa, kesadaran itu mulai tumbuh. Beberapa pelajar yang terlibat dalam organisasi kepemudaan menilai bahwa teman sebaya memiliki peran penting sebagai pendengar pertama ketika seseorang mengalami masalah.

Pendekatan peer support dinilai lebih efektif untuk membantu remaja yang enggan berbicara kepada orang dewasa. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa masa remaja adalah fase yang rentan sekaligus menentukan.

Ketika relasi dijalani tanpa kesiapan mental dan pemahaman yang cukup, tekanan bisa muncul tanpa disadari. Karena itu, menciptakan ruang aman, baik di rumah maupun di sekolah menjadi kebutuhan mendesak.

Ruang aman bukan hanya tempat untuk mengadu, tetapi juga ruang untuk belajar memahami diri, mengenali batas, dan membangun relasi yang sehat. Di tengah dinamika pergaulan dan derasnya arus digital, remaja tidak hanya membutuhkan nasihat.

Mereka membutuhkan pendampingan, empati, dan lingkungan yang membuat mereka merasa didengar. Sebab dari ruang aman itulah, ketahanan mental perlahan bisa dibangun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....