AI dan Kreativitas Anak: antara Peluang dan Tantangan

  • 11 Jun 2026 09:10 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin dekat dengan kehidupan anak dan remaja. Berbagai kemudahan yang ditawarkan membuat AI menjadi alat yang banyak dimanfaatkan untuk mencari informasi, membantu belajar, hingga menyelesaikan tugas sekolah. Namun di balik manfaat tersebut, muncul kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap kreativitas dan kemampuan berpikir kritis generasi muda.

Isu tersebut menjadi salah satu perhatian yang mengemuka dalam pelaksanaan Mimbar Anak Bali 2026. Melalui forum yang mempertemukan perwakilan anak dari seluruh kabupaten dan kota di Bali, para peserta menyampaikan berbagai aspirasi terkait tantangan yang mereka hadapi di era digital. Salah satu yang paling banyak dibahas adalah penggunaan AI yang semakin masif di kalangan pelajar.

Ketua Forum Anak Daerah Provinsi Bali, Anak Agung Istri Mahisa Gangga Dewi, dalam Acara Rahajeng Bali, pada Jumat 29 Mei 2026, menjelaskan bahwa pembahasan mengenai AI muncul hampir di berbagai komisi, mulai dari bidang pendidikan hingga jaringan dan teknologi informasi. Menurutnya, banyak anak mulai menyadari bahwa ketergantungan yang berlebihan terhadap AI dapat mengurangi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, intelektualitas, serta kemampuan menghasilkan karya secara mandiri.

Kemudahan yang diberikan teknologi memang menghadirkan banyak peluang. Anak-anak kini dapat mengakses berbagai sumber pengetahuan dengan lebih cepat, memperoleh referensi belajar yang beragam, bahkan mengembangkan ide-ide baru melalui bantuan teknologi digital. Dalam dunia pendidikan, AI juga dapat menjadi sarana yang membantu proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.

Namun, para peserta Mimbar Anak Bali menilai bahwa penggunaan AI perlu disertai dengan kesadaran dan kebijaksanaan. Ketika teknologi digunakan untuk menggantikan proses berpikir, bukan mendukungnya, maka kemampuan anak dalam berimajinasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah dapat berangsur melemah. Kondisi inilah yang menjadi perhatian generasi muda Bali yang berharap teknologi tetap menjadi alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia.

Di sisi lain, perkembangan dunia digital juga menuntut anak untuk memiliki literasi digital yang baik. Kemampuan memilah informasi, memahami etika penggunaan teknologi, serta menjaga keamanan diri di ruang digital menjadi keterampilan yang semakin penting. Oleh karena itu, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat diperlukan untuk mendampingi anak dalam memanfaatkan teknologi secara sehat dan produktif.

Mimbar Anak Bali 2026 menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap dampak yang ditimbulkannya. Melalui suara yang mereka sampaikan, anak-anak Bali mengingatkan bahwa kemajuan teknologi seharusnya berjalan beriringan dengan penguatan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Sebab di masa depan, kecerdasan buatan mungkin akan semakin canggih, tetapi kreativitas dan nilai kemanusiaan tetap menjadi kekuatan utama yang tidak dapat tergantikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....