Menjaga Kesehatan Mental Anak di tengah Tekanan Akademik

  • 07 Jun 2026 12:11 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Di tengah persaingan pendidikan yang semakin ketat, anak-anak kini tidak hanya dituntut meraih prestasi akademik yang tinggi, tetapi juga harus mampu memenuhi berbagai ekspektasi dari lingkungan sekitarnya. Kondisi ini menjadi perhatian berbagai pihak karena berpotensi memengaruhi kesehatan mental anak apabila tidak diimbangi dengan pemahaman yang tepat mengenai kebutuhan tumbuh kembang mereka.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 5 Juni 2026, Komisioner KPAD Provinsi Bali Bidang Pendidikan, Pengisian Waktu Luang, dan Kegiatan Budaya, Ir. I Made Ariasa,M.Pd menyoroti fenomena anak-anak yang sejak usia dini telah dibebani berbagai target akademik. Mulai dari les tambahan, penguasaan berbagai bahasa asing, hingga tuntutan untuk selalu menjadi yang terbaik. Padahal, masa anak-anak sejatinya merupakan fase penting untuk bermain, bersosialisasi, dan membangun karakter.

Menurutnya, tekanan yang berlebihan dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengenali potensi dirinya sendiri. Ketika anak hanya diarahkan untuk mengejar nilai dan prestasi, mereka berisiko tumbuh tanpa fondasi karakter yang kuat. Akibatnya, saat menghadapi masalah atau kegagalan, sebagian anak menjadi lebih rentan mengalami stres, kecemasan, hingga gangguan kesehatan mental.

Pandangan serupa disampaikan oleh Duta Anak Provinsi Bali, Ni Putu Aira Putri Kayana. Ia menegaskan bahwa anak memiliki hak untuk berkembang secara utuh, tidak hanya melalui pendidikan akademik, tetapi juga melalui kegiatan yang dapat mengasah minat, bakat, dan keterampilan sosial. Menurutnya, ruang bagi anak untuk berekreasi, berorganisasi, dan berinteraksi dengan teman sebaya sama pentingnya dengan proses belajar di sekolah.

Bagi Aira Putri, keseimbangan antara akademik dan non-akademik menjadi kunci agar anak dapat tumbuh dengan sehat, baik secara intelektual maupun emosional. Melalui wadah seperti Forum Anak Daerah, anak-anak diberikan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

Sementara itu, Duta Anak lainnya, Kadek Silva Octricia Pratiwi, mengingatkan bahwa tekanan untuk selalu berprestasi dapat berdampak panjang terhadap kondisi psikologis anak. Tidak sedikit anak yang mengalami kelelahan mental akibat tuntutan yang terlalu tinggi, baik dari lingkungan sekolah maupun keluarga. Oleh karena itu, dukungan orang tua, guru, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, pendidikan tidak hanya ditujukan untuk mencetak anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang tangguh, bahagia, dan mampu mengenali dirinya sendiri. Kesehatan mental anak menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan tersebut. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai rapor, melainkan dari kemampuan anak untuk tumbuh menjadi manusia yang utuh, berkarakter, dan siap menghadapi kehidupan dengan percaya diri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....