Validasi di Dunia Maya, Tantangan Baru bagi Anak dan Remaja
- 11 Jun 2026 09:11 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang yang semakin luas bagi anak dan remaja untuk berinteraksi, berekspresi, dan membangun jejaring sosial. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang perlu mendapat perhatian bersama, yakni kecenderungan anak mencari validasi atau pengakuan dari lingkungan digital ketika kebutuhan emosionalnya tidak terpenuhi di dunia nyata.
Dalam Acara Rahajeng Bali, pada Jumat 29 Mei 2026, Wakil Ketua KPAD Provinsi Bali, A.A. Made Putra Wirawan,SH., MH menilai bahwa perkembangan media sosial dan dunia digital menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi anak-anak. Ketika mereka tidak memperoleh perhatian, penghargaan, atau dukungan yang cukup dari lingkungan terdekat, sebagian anak cenderung mencari pengakuan dari ruang digital yang belum tentu aman bagi tumbuh kembang mereka.
Di era media sosial, validasi sering kali diukur melalui jumlah pengikut, tanda suka, komentar, maupun respons dari pengguna lain. Bagi sebagian anak dan remaja, hal tersebut dapat menjadi sumber kebahagiaan sekaligus tekanan. Keinginan untuk diterima dan diakui terkadang membuat mereka rela membagikan informasi pribadi, mengikuti tren berisiko, atau bergabung dengan kelompok yang belum tentu memberikan pengaruh positif.
Ketua Forum Anak Daerah Provinsi Bali, Anak Agung Istri Mahisa Gangga Dewi, mengungkapkan bahwa berbagai tantangan digital saat ini menjadi perhatian anak-anak dari seluruh kabupaten dan kota di Bali. Melalui Mimbar Anak Bali, mereka menyampaikan aspirasi terkait pentingnya literasi digital, penggunaan teknologi yang bijak, serta perlindungan terhadap berbagai ancaman yang dapat muncul melalui media sosial dan platform digital lainnya.
Salah satu risiko yang turut menjadi perhatian adalah praktik child grooming, yakni manipulasi yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak melalui pendekatan emosional maupun media digital. Kasus-kasus seperti ini sering kali sulit terdeteksi karena berlangsung secara perlahan dan memanfaatkan kebutuhan anak akan perhatian serta penerimaan dari orang lain.
Karena itu, pendampingan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi sangat penting. Orang tua tidak hanya berperan mengawasi penggunaan gawai, tetapi juga membangun komunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak. Ketika anak merasa didengar, dihargai, dan diterima di lingkungan terdekatnya, kebutuhan akan validasi dari dunia maya dapat dikelola dengan lebih sehat.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, anak-anak Bali menunjukkan kepedulian terhadap berbagai tantangan yang mereka hadapi. Melalui suara yang disampaikan dalam Mimbar Anak Bali 2026, mereka mengajak semua pihak untuk menciptakan ruang digital yang aman sekaligus memperkuat lingkungan sosial yang mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Sebab pada akhirnya, pengakuan yang paling berarti bagi seorang anak bukanlah jumlah tanda suka di media sosial, melainkan rasa diterima, dihargai, dan dicintai oleh lingkungan di sekitarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....