Sekolah Terdampak Banjir Bandang Terpaksa Ditempati Karena Darurat

  • 05 Feb 2026 14:40 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Situbondo - Sejumlah sekolah jenjang SD dan SMP di wilayah terdampak banjir bandang di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, belum dilakukan perbaikan, namun tetap digunakan untuk proses belajar mengajar, salah satunya di SMPN 1 Banyuglugur.

Kondisi SMPN 1 Banyuglugur sangat memprihatinkan, pagar sekolah dan ruang sekolah rusak akibat terendam banjir, semua alat elektronik seperti komputer, printer, meja kursi, buku paket siswa, juga ikut terendam, total kerugian mencapai Rp616.197 juta.

Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengaku, ada puluhan sekolah jenjang SD dan SMP yang terdampak banjir bandang pada 21 Januari 2026 sekitar pukul 18:30 Wib. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di tujuh kecamatan terdampak di antaranya, Kapongan, Kendit, Bungatan, Mlandingan, Besuki, Jatibanteng, Besuki, dan Banyuglugur.

"Data jumlah lembaga pendidikan yang terdampak banjir bandang terus berkembang ya, kami terus memperbarui datanya," ujar Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo saat meninjau SMPN 1 Banyuglugur, Kamis (5/2/2026).

Bupati mengaku telah mendatangi Komisi XI untuk menyampaikan realita di lapangan terkait dengan dampak dan kerugian banjir bandang di Situbondo, dengan harapan bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.

"Makanya kemarin kami mohon bantuan dari pemerintah pusat, karena sekolah ini kan kondisinya parah," ucapnya.

Bupati sangat berharap bantuan dari pemerintah pusat mengingat banyak infrastruktur seperti jembatan, pertanian, termasuk lembaga pendidikan yang terdampak banjir dan harus segera diperbaiki

"Yang terpenting bagi kami pemerintah daerah, kerusakan itu harus segera dibangun. Entah dananya malalui transfer ke daerah (TKD) atau langsung dibangun, tidak ada masalah, yang penting segera dibangun seperti awal," ungkapnya.

Kata Bupati Rio, jika tidak segera dibangun, maka dampak yang akan ditimbulkan akibat banjir bandang akan lebih besar. Salah satu contoh jembatan yang terputus, dan menutup akses antar Desa Wringinanom dan Desa Patemon Kecamatan Jatibanteng.

"Kalau tidak segera diperbaiki, resikonya pasti akan lebih besar. Secara ekonomi, itu menjadi tantangan kita di dalam konteks penanganan banjir ini," bebernya.

Bupati Rio mengapresiasi atensi dari berbagai pihak yang memberikan sumbangan kepada warga terdampak banjir, baik sumbangan dari ASN maupun dari berbagai pihak yang peduli korban banjir Situbondo.

"Tidak hanya pemerintah kabupaten, tapi semua staf aparatur ikut bergerak. Masyarakat juga bergerak. Sumbangan tidak ada hentinya. Tapi apakah itu cukup? Setelah kita hitung kebutuhan untuk semuanya, termasuk sekolah, sekitar Rp160 miliar," jelas Bupati Rio.

Bupati berharap, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Keuangan punya kebijakan seperti yang dilakukan terhadap Aceh dan Sumatera, terutama terhadap wilayah yang menjadi basis banjir sehingga saat banjir terjadi, bisa segera diatasi.

"Contohnya di sekolah ini, kan sudah mau ujian tes kemampuan akademik (TKA), tapi alatnya rusak semua. Nanti saya bikin tindakan afirmatif supaya mereka itu boleh juga ikut. Itu dari sisi kami yang bisa dilakukan," imbuhnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....