Penyandang Disabilitas di Banyumas Dilatih Jadi Kader Jumantik

  • 25 Des 2025 19:28 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar Pelatihan Jumantik Inklusif bertajuk “Pemberdayaan Warga dalam Pengendalian Nyamuk Menuju Banyumas Bebas DBD 2030”.

Kegiatan ini didukung pendanaan dari Royal Entomological Society (RES), Inggris, melalui skema Equality, Diversity, and Inclusion (EDI) Grant. Hibah tersebut diterima oleh Juli R. Wuliandari, Ph.D., dosen dan peneliti entomologi vektor dengue pada Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMP.

Juli R. Wuliandari menegaskan, keterlibatan masyarakat menjadi faktor utama dalam keberhasilan pengendalian dengue. Ia menilai, pendekatan kebijakan yang bersifat struktural atau dari atas ke bawah selama ini belum mampu menekan kasus DBD, yang masih terus berulang di wilayah endemik seperti Banyumas.

“Pengendalian dengue tidak bisa hanya mengandalkan instruksi struktural. Tanpa partisipasi warga di tingkat rumah tangga dan komunitas, siklus penularan akan terus berulang. Karena itu, RES mendukung pendekatan berbasis masyarakat yang inklusif dan berkeadilan,” ucapnya dalam keterangan yang diterima RRI, Rabu (24/12/2025).

Baca juga: CRM Award VI, UMP Terima Penghargaan PTMA Peduli

Pelatihan dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor IV UMP, Akhmad Darmawan, Ph.D., dan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor. Peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, antara lain Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Cabang Banyumas, penyandang disabilitas tuna daksa, kader PKK dan Jumantik, pelajar, Karang Taruna, serta pengurus tempat ibadah dari Desa Purwodadi Kecamatan Kembaran, Kelurahan Karangklesem Kecamatan Purwokerto Selatan, dan Desa Kedungrandu Kecamatan Patikraja.

Dalam sambutannya, Akhmad Darmawan menyampaikan bahwa UMP tidak hanya berperan dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga memiliki tanggung jawab pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

“UMP harus hadir memberi dampak nyata. Pelatihan Jumantik inklusif ini adalah bentuk kolaborasi kampus, masyarakat, dan mitra internasional seperti Royal Entomological Society dalam membangun sistem pencegahan DBD yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dilengkapi dengan kuliah umum yang menghadirkan Prof. Endang Srimurni, peneliti Wolbachia dari Universitas Jenderal Soedirman, Arif Burhanudin, MPH dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, serta Supriatin, S.Tr.KL dari TP PKK Kabupaten Banyumas. Diskusi menekankan pentingnya integrasi pendekatan ilmiah, teknologi pengendalian vektor, dan peran sosial komunitas dalam menekan risiko DBD.

Baca juga: Simkatmawa 2025, UMP Raih Predikat Unggul Klaster I

Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMP yang juga memimpin pelatihan bertajuk Inclusive Entomology for Dengue Prevention: Empowering Underrepresented Rural Communities in Central Java, Indonesia, menyampaikan bahwa pengendalian nyamuk tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat agar upaya pencegahan DBD dapat berjalan berkelanjutan.

Program ini diharapkan dapat menjadi model pengendalian dengue berbasis warga, dengan menempatkan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas, sebagai ujung tombak pengendalian vektor di tingkat komunitas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....