Dindik Banyumas Dorong Guru Tak Mentah-Mentah Gunakan Hasil AI
- 07 Agt 2026 10:18 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas mendorong guru memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu pembelajaran. Namun, setiap hasil yang dihasilkan AI harus diperiksa dan disesuaikan kembali dengan kondisi nyata peserta didik.
Hal itu disampaikan Pengawas Madya SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Imam Tobroni, S. Pd., M. Pd., dalam dialog Purwokerto Menyapa, Kamis (6/8/26). Ia mengatakan AI dapat membantu guru dalam berbagai kebutuhan, termasuk menyusun perencanaan pembelajaran, soal, hingga kisi-kisi.
Meski demikian, guru tidak diperbolehkan langsung menggunakan hasil AI tanpa melakukan pengecekan. Guru harus memiliki kemampuan untuk memvalidasi dan mengadaptasi hasil teknologi tersebut sesuai kebutuhan pembelajaran.
“Begitu sudah jadi hasil, silakan dicek lagi. Pengecekan inilah guru berarti harus punya kemampuan untuk memvalidasi perencanaan tadi,” kata Imam.
Menurut Imam, hasil yang diberikan AI belum tentu sesuai dengan kondisi setiap sekolah. Prompt yang digunakan untuk membuat perangkat pembelajaran dapat menghasilkan rekomendasi yang tidak relevan dengan fasilitas maupun karakteristik peserta didik di suatu daerah.
Ia mencontohkan, perangkat pembelajaran untuk sekolah di perkotaan belum tentu dapat diterapkan begitu saja di sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas. Oleh karena itu, Imam menegaskan posisi AI dalam pembelajaran hanya sebagai mitra berpikir, dimana guru tetap menjadi pihak yang menentukan dan bertanggung jawab atas hasil akhir perangkat pembelajaran yang digunakan.
Sementara untuk peserta didik, Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas tidak mengambil pendekatan pelarangan penggunaan AI. Pemanfaatannya tetap diperbolehkan dengan batasan dan tujuan yang tepat.
Imam juga mendorong guru memperbanyak asesmen berbasis proyek agar proses pengerjaan peserta didik dapat diamati secara langsung. Dengan demikian, penilaian tidak hanya bertumpu pada hasil akhir tugas yang berpotensi dikerjakan menggunakan AI.
Selain itu, guru didorong menggunakan soal yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS). Menurut Imam, tugas berbasis kasus dan analisis dapat membuat peserta didik tetap terlibat dalam menuangkan pemikirannya meskipun menggunakan bantuan AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....