Pemkab Ende Bahas Lokasi Jual Daging di Pasar

  • 03 Sep 2025 19:41 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Wacana Pemerintah Kabupaten Ende menjadikan Pasar Senggol sebagai pusat penjualan daging, termasuk daging babi, menuai respons dari berbagai elemen masyarakat. Khususnya, umat Muslim di Kabupaten Ende menyatakan keresahan atas rencana tersebut.

Menanggapi polemik tersebut, Bupati Ende Yosef Benediktus Badeoda mengundang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ende bersama tokoh dan ormas Islam. Pertemuan digelar pada Rabu (3/9/2025) di ruang kerja Bupati untuk membahas solusi terbaik.

Hadir dalam pertemuan tersebut Wakil Bupati Ende Dominikus Minggu Mere, Kepala Kantor Kementerian Agama, serta sejumlah pejabat Forkopimda. Dari pihak umat Islam, turut hadir Ketua MUI Kabupaten Ende, perwakilan NU, Muhammadiyah, KAHMI, HMI, serta organisasi perempuan seperti Aisyiyah dan Muslimah.

Ketua MUI Ende, Abdul Syukur Muhamad, menyampaikan keresahan umat Islam atas rencana pemindahan penjualan daging babi ke Pasar Senggol. Menurutnya, hal itu menyangkut akidah dan kenyamanan umat Muslim yang selama ini berbelanja di pasar tersebut.

Abdul Syukur menilai selama ini aktivitas di Pasar Senggol berjalan aman dan tidak menimbulkan masalah. Ia khawatir, jika semua jenis daging dijual dalam satu lokasi, maka akan timbul gesekan serta persepsi negatif di tengah masyarakat.

"Dari hasil dialog, Bupati sepakat bahwa Pasar Senggol akan dijadikan pusat penjualan daging, tetapi tidak termasuk daging babi," ujar Abdul Syukur kepada RRI usai pertemuan. Ia menambahkan, daging babi akan dijual di lokasi khusus yang terpisah.

Lebih lanjut, MUI Kabupaten Ende mendukung langkah Pemkab untuk menertibkan lapak penjual daging babi yang tersebar di sejumlah titik kota. Penjualan yang tidak terkontrol dinilai berisiko bagi kesehatan dan estetika kota.

Bupati Yosef Benediktus Badeoda menegaskan, keputusan ini merupakan hasil dari musyawarah bersama tokoh-tokoh umat Muslim. Ia menyatakan kesepakatan sudah dicapai bahwa daging babi akan dijual di lokasi berbeda yang lebih layak.

"Kalau tetap di Pasar Potulando, harus dibuat khusus agar tidak mengganggu yang lain. Tapi kalau memungkinkan, akan dicari tempat baru yang lebih representatif dan aman," ujar Bupati Yosef kepada RRI.

Ia menambahkan, pemerintah daerah ingin memastikan agar penjualan daging babi dilakukan secara tertib dan tidak sembarangan. “Jangan lagi jual di pinggir jalan seperti saat ini. Harus ada tempat yang benar-benar khusus,” ujarnya menegaskan.

Dengan adanya dialog ini, diharapkan polemik di masyarakat dapat mereda dan aktivitas pasar tetap berjalan kondusif. Pemerintah juga berkomitmen melibatkan seluruh unsur masyarakat dalam setiap pengambilan kebijakan publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....