Kampung Adat Wogo, Warisan Megalitikum yang Hidup

  • 09 Agt 2025 12:30 WIB
  •  Ende

KBRN, Ngada: Di balik lengkung perbukitan Kecamatan Golewa, berdiri sebuah kampung adat yang masih setia mempertahankan tradisi leluhur: Kampung Adat Wogo. Terletak di sisi barat jalan raya utama, kampung seluas 1,5 hektare ini adalah saksi sejarah panjang masyarakat Ngada sejak zaman megalitikum.

Salah satu tokoh penjaga adat di kampung ini adalah Marselus Selu (67), yang menjabat sebagai Soma atau ketua dalam rumah adat miliknya yang bernama Sao Liko Woe, Woe Ngate. Dengan tenang, Marselus menceritakan asal-usul kampung dan kisah perpindahan besar yang terjadi pada tahun 1935.

Di pelataran bebatuan bekas rumah adat Wogo di Kampung Lama Wogo, Marselus mengisahkan kepada RRI pada Jumat (8/8/2025) tentang sejarah perpindahan kampung. Ia menceritakan bahwa peristiwa berdarah di salah satu rumah adat saat itu membuat para tetua adat memutuskan untuk memindahkan seluruh kampung ke lokasi baru yang kini dikenal sebagai Kampung Adat Wogo di Desa Ratogesa.

“Ini adalah batu-batu megalitikum yang masih tersisa di bekas kampung lama. batu - batu ini menjadi penanda tempat berdirinya rumah adat dari tiap suku yang dulu tinggal di sana,” ujar Marselus.

Setiap tahun, menjelang perayaan Reba atau pesta syukur tahunan, masyarakat Kampung Wogo kembali ke kampung lama. Di sana mereka melakukan ritus pembersihan, memberi sesajen, dan memanjatkan doa kepada para leluhur, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan tradisi.

Saat ini, Kampung Adat Wogo terdiri dari 32 rumah adat atau Sa’o yang seluruhnya dibangun dari bahan-bahan alami. Rumah-rumah ini berbentuk panggung, beratap alang-alang dan bambu, dengan tiang utama dari kayu. Setiap bagian rumah memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat.

Dilansir dari Wikipedia, bahwa dalam struktur rumah adat Ngada, ruang dibagi menjadi tiga bagian: Tedha Wewa, Tedha One, dan One. Tedha Wewa merupakan ruang depan untuk bersantai, tempat ibu-ibu menenun dan menerima tamu.

Tedha One adalah ruang tengah yang digunakan untuk berkumpul, memasak, dan beristirahat. Sementara One adalah ruang inti yang bersifat sakral, digunakan untuk ritual adat, menyimpan benda pusaka, serta tempat tidur kepala keluarga.

Seluruh rumah adat di Wogo dibangun menghadap dua simbol utama yang menjadi pusat spiritualitas kampung: Ngadhu dan Bagha. Ngadhu, berbentuk rumah kecil dengan tiang utama, melambangkan leluhur perempuan. Sedangkan Bagha, yang menyerupai payung beratap ijuk dan alang-alang, melambangkan leluhur laki-laki.

Di tengah arus modernisasi, Kampung Adat Wogo tetap bertahan. Bukan sekadar sebagai tempat wisata budaya, tetapi sebagai ruang hidup di mana tradisi, nilai-nilai leluhur, dan harmoni dengan alam terus dijaga.

Selama batu masih berdiri dan alang-alang masih menari di atas atap, adat dan budaya Wogo akan terus hidup bersama generasi penerusnya.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....