Ndaut dan Tandur: Warisan Budaya Pertanian yang Terus Relevan
- 03 Feb 2025 12:02 WIB
- Malang
KBRN, Malang: Sudah menjadi kebiasaan petani di desa bilamana musim tanam padi datang terlihat sibuk di persawahan untuk beraktifitas di sawah masing-masing. Walaupun jaman sudah modern tapi warga pedesaan yang mayoritasnya adalah petani yang sudah ngetrend dari jaman nenek moyang sampai sekarang yaitu “ndaut dan tandur”.
Ndaut yaitu mencabut padi satu per satu untuk diikat di kelompok-kelompok kan menjadi beberapa ikatan untuk mempermudah proses penanaman padi. Sedangkan tandur yaitu proses penanaman padi yang dilakukan para petani secara tradisional dan dilakukan para ibu-ibu tani dengan tanam berjalan mundur.
Dijaman sekarang, menurut Askumi (55), warga desa Sanankerto Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, kata Ndaut dan Tandur sudah terdengar asing oleh anak-anak pelajar yang mayoritasnya sudah serba modern. Dengan maksud uri-uri atau melestarikan pembelajaran tentang pertanian biar tidak terdengar asing maka Ndaut dan Tandur adalah bahasa yang trend, untuk pemandangan di waktu musim tanam padi.
"Cara menanam padi dengan posisi badan membungkuk dan berjalan mundur dikenalkan oleh Jepang saat menjajah Indonesia. Sebelum petani mengenal tandur, biasanya mereka akan menanam padi secara acak," ujarnya, Senin (3/2/2025).
Melihat hal tersebut, Jepang mengajarkan cara menanam padi yang dikenal tandur yaitu berjalan mundur. Cara ini dilakukan supaya benih padi tidak terinjak oleh petani yang menanamnya dan supaya tanaman padi tertanam secara lurus dan sejajar. Ketika menanam padi dengan langkah mundur petani dapat melihat dan menyesuaikan barisan benih tersebut. Benih padi yang ditanam diantara pertemuan garis lurus yang memanjang dan memotong pada satu petah sawah. Padi pun terlihat rapi dan berbaris sesuai dengan garis. (Fir)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....