Batik Cirebon Hadapi Produk Impor dan Kelangkaan Pengrajin

  • 02 Okt 2026 16:07 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Penjualan batik di Cirebon dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan dibandingkan kondisi sebelumnya. Perubahan kebijakan pemerintah dan perkembangan teknologi menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

Pengrajin Batik Hisyam Suleiman mengatakan, perkembangan e-commerce turut memberikan dampak terhadap sentra batik di kawasan Desa Trusmi. Kondisi tersebut membuat pengrajin perlu menyesuaikan diri dengan perubahan pola perdagangan yang terjadi saat ini.

Menurut Hisyam, produk batik yang diproduksi secara massal dari luar negeri juga memberikan tekanan terhadap pengrajin lokal. Produk tersebut menawarkan alternatif bagi masyarakat karena dapat dijual dengan harga yang lebih rendah.

“Yang tantangan terbesar sih kelangkaan pengrajin, jelas. Terus yang kedua, cost untuk memproduksi sesuatu di Indonesia nih jadinya semakin mahal sekarang dibanding dengan produk-produk yang masuk dari luar negeri seperti yang dari Cina itu,” ujar Hisyam saat dihubungi RRI pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Hisyam menyebutkan, perbedaan harga produk tersebut dapat mencapai 10 hingga 30 persen dibandingkan produk batik yang dibuat pengrajin Indonesia. Kondisi itu membuat produk dari Cina mampu bersaing di platform e-commerce.

Ia menilai pemerintah perlu memberikan dukungan melalui regulasi untuk menjaga keberlangsungan ekosistem batik. Dukungan tersebut antara lain berkaitan dengan pembatasan produk impor yang menyerupai batik, standardisasi bahan pewarna, serta penguatan pariwisata di desa-desa sentra batik.

“Dukungan pemerintah tuh menurut saya adalah wajib untuk membatasi barang masuk impor yang menyerupai batik seperti batik printing tuh untuk masuk ke Indonesia. Itu paling pertama, karena pengusaha kan enggak bisa, enggak mungkin bisa melalui itu semua,” ucapnya.

Di sisi lain, Hisyam melakukan edukasi melalui media sosial untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai batik Cirebon. Edukasi tersebut dilakukan agar masyarakat tidak hanya mengenal batik, tetapi juga memahami karakteristik batik asli.

Hisyam juga memasarkan produknya melalui kanal online dan offline untuk menyesuaikan perkembangan pola belanja masyarakat. Namun, penjualan secara langsung masih lebih banyak karena produk yang ditawarkan merupakan batik tulis.

Memperingati Hari Batik Nasional, ia berharap masyarakat semakin memahami dan menghargai batik sebagai warisan budaya Indonesia. Menurutnya, keberlangsungan batik tidak hanya berdampak kepada pengusaha dan pengrajin, tetapi juga menghidupkan ekosistem ekonomi di desa-desa sentra batik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....