BPBD Jabar Catat 198 Kecamatan dan 474 Desa Terdampak Kekurangan Air Bersih

  • 02 Sep 2026 16:45 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat sebanyak 198 kecamatan dan 474 desa di berbagai kabupaten dan kota terdampak kekurangan air bersih akibat musim kemarau yang masih berlangsung hingga akhir Agustus 2026. Kondisi tersebut membuat BPBD kabupaten dan kota di Jawa Barat terus melakukan penanganan, termasuk melalui pendistribusian air bersih kepada masyarakat di wilayah terdampak.

Data tersebut disampaikan Pranata Humas Ahli Muda BPBD Provinsi Jawa Barat, Andri Setiawan, dalam Dialog Kentongan yang disiarkan Pro 1 RRI Cirebon pada Selasa, 1 September 2026. Berdasarkan pantauan BPBD per 31 Agustus 2026, dampak kekeringan telah ditemukan di sejumlah wilayah pada hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat, meskipun tidak seluruh wilayah di daerah tersebut mengalami kondisi serupa.

“Memang untuk wilayah Jawa Barat saat ini menurut pantauan data di kami per tanggal 31 Agustus ini hampir seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat ada beberapa wilayah yang terdampak kekeringan, terutama kekurangan ketersediaan air bersih,” ujar Andri.

Ia mengatakan, BPBD telah mencatat ratusan wilayah yang mengalami keterbatasan air bersih sehingga penanganan terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah terdampak. Menurutnya, terdapat beberapa wilayah yang memang cukup sering mengalami kekeringan setiap musim kemarau karena memiliki karakteristik dan kondisi lingkungan yang menyebabkan ketersediaan air lebih terbatas dibandingkan daerah lainnya.

Meski demikian, BPBD kabupaten dan kota masih terus melaksanakan pendistribusian air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama sumber air mengalami penurunan.Andri mengatakan musim kemarau tahun ini diperkirakan masih berlangsung cukup panjang sehingga masyarakat di wilayah yang memiliki curah hujan relatif rendah perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan kekurangan air.

“Kemarau kekeringannya diprediksi akan lebih panjang hingga akhir tahun atau mungkin bahkan awal tahun depan,” ujar Andri.

Ia menambahkan, perbedaan curah hujan di setiap wilayah turut memengaruhi tingkat kekeringan karena sebagian daerah masih menerima hujan dengan intensitas cukup besar, sementara wilayah lainnya mengalami curah hujan yang lebih sedikit. Kondisi tersebut dapat menyebabkan daerah yang setiap tahun mengalami kekeringan menghadapi dampak yang lebih panjang, terutama ketika dipengaruhi fenomena cuaca seperti El Nino.

Selain curah hujan, kondisi topografi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan air di sejumlah wilayah Jawa Barat karena tidak semua daerah memiliki akses yang sama terhadap aliran sungai atau sumber air lainnya. Beberapa sungai juga terpantau mengalami penyusutan debit air sehingga masyarakat di wilayah tertentu membutuhkan bantuan distribusi air bersih dari BPBD kabupaten dan kota.

BPBD Provinsi Jawa Barat terus memantau perkembangan kekeringan dan data wilayah terdampak sebagai dasar penanganan bersama pemerintah daerah, terutama untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap dapat terpenuhi selama musim kemarau berlangsung. Masyarakat juga diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan dan menggunakan air secara bijak agar dampak keterbatasan air tidak semakin meluas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....