Jejak Pangeran Rama Jaksa Patikusuma dalam Sejarah Kuningan

  • 31 Agt 2026 18:06 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, kembali menjadi tempat ziarah pada peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan pada Senin 31 Agustus 2026.
  • Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar bersama Wakil Bupati Tuti Andriani dan Sekretaris Daerah U. Kusmana melakukan prosesi doa bersama di makam untuk menghormati tokoh sejarah lokal.
  • Pangeran Rama Jaksa Patikusuma dikenang dalam tradisi sejarah lokal sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan pemerintahan, keagamaan, dan pendidikan masyarakat Kuningan.

RRI.CO.ID, Kuningan - Nama Pangeran Rama Jaksa Patikusuma menjadi salah satu bagian dari jejak sejarah yang masih dikenang di Kabupaten Kuningan. Makam tokoh yang berada di Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, itu kembali menjadi tempat ziarah dalam rangkaian Hari Jadi ke-528 Kuningan, Senin 31 Agustus 2026.

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar bersama Wakil Bupati Tuti Andriani dan Sekretaris Daerah U. Kusmana datang ke kompleks makam tersebut. Mereka mengikuti prosesi doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang dalam tradisi sejarah lokal disebut memiliki peran dalam perkembangan pemerintahan, keagamaan, dan pendidikan masyarakat Kuningan.

Berdasarkan keterangan juru pelihara makam, Andi, Pangeran Rama Jaksa Patikusuma dikenal dengan sejumlah peran. Dalam cerita sejarah lokal, ia disebut sebagai seorang raja, panglima sekaligus ulama.

Peran keulamaan Pangeran Rama Jaksa Patikusuma tidak hanya berkaitan dengan penyebaran Islam, tetapi juga dengan pendidikan masyarakat pada masanya. Ia dipercaya turut membimbing sejumlah tokoh yang kemudian memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Kuningan.

Salah satu tokoh yang disebut pernah mendapatkan pendidikan dan pengasuhan darinya adalah Surangga Jaya, yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Kuningan atau Pangeran Arya Kamuning.

Dalam tradisi setempat, Pangeran Rama Jaksa Patikusuma juga dikenal dengan gelar Ki Gedeng Kemuning. Keterkaitan nama tersebut kemudian menjadi bagian dari kisah mengenai penyebutan Pangeran Kemuning bagi Surangga Jaya.

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa hubungan antartokoh dalam sejarah Kuningan tidak hanya terbentuk melalui garis kekuasaan, tetapi juga melalui hubungan guru dan murid, pendidikan, serta penyebaran ajaran agama.

Keberadaan makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma di Winduherang menjadi salah satu penanda bahwa kawasan tersebut menyimpan jejak sejarah yang berkaitan dengan perkembangan awal Kuningan.

Makam tersebut tidak hanya menjadi tempat peristirahatan tokoh masa lalu, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenang cerita mengenai tokoh-tokoh yang hidup pada masa awal perkembangan pemerintahan dan Islam di wilayah Kuningan.

Rangkaian ziarah pada Hari Jadi ke-528 Kuningan juga memperlihatkan keterhubungan sejumlah situs makam tokoh sejarah di kawasan tersebut.

Setelah berziarah ke makam Pangeran Rama Jaksa Patikusuma, rombongan melanjutkan ziarah ke makam Pangeran Arya Adipati Ewangga yang masih berada di Kelurahan Winduherang.

Rangkaian tersebut kemudian diteruskan menuju kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Secara historis, kawasan Kuningan dan Cirebon memiliki hubungan yang erat dalam perkembangan pemerintahan dan penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat bagian timur. Karena itu, ziarah ke sejumlah makam tokoh tersebut menjadi bagian dari upaya menelusuri kembali mata rantai sejarah yang berkembang di wilayah Kuningan dan Cirebon.

Bagi masyarakat Kuningan, keberadaan makam para tokoh leluhur menjadi pengingat bahwa sejarah daerah tidak hanya dapat ditelusuri melalui dokumen pemerintahan, tetapi juga melalui situs, makam, tradisi lisan, dan kisah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pangeran Rama Jaksa Patikusuma merupakan salah satu nama yang hidup dalam tradisi sejarah tersebut. Jejaknya di Winduherang menjadi bagian dari mozaik panjang perjalanan Kuningan hingga memasuki usia 528 tahun.

Peringatan Hari Jadi kemudian menjadi momentum untuk kembali melihat sejarah tersebut, sekaligus mempertanyakan bagaimana warisan nilai dari para pendahulu dapat terus dipelihara oleh generasi Kuningan masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....