Menelusuri Winduherang: Jejak Pangeran Ramajaksa dan Cikal Bakal Kunin

  • 30 Jul 2026 23:10 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Situs keramat bersejarah terletak di perbukitan Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.
  • Akses jalan menuju situs keramat ini menanjak dengan kemiringan yang cukup curam sehingga memerlukan perhatian ekstra.
  • Pengendara yang mengunjungi lokasi bersejarah ini harus meningkatkan kewaspadaan dan menjaga konsentrasi tinggi selama perjalanan.

RRI.CO.ID, Kuningan - Sebuah situs keramat berdiri kokoh di perbukitan Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Untuk mencapai lokasi bersejarah ini, perjalanan menuntut perhatian ekstra.

Akses jalan menanjak yang cukup curam memaksa setiap pengendara meningkatkan kewaspadaan dan menjaga konsentrasi. Tepat di bahu jalan usai melintasi tanjakan, berdiri sebuah pintu masuk bersahaja.

Papan petunjuk di depannya mengarahkan langkah menuju Situs Makam Pangeran Ramajaksa. Karena posisinya yang memeluk lereng bukit, pengunjung harus menapaki deretan anak tangga batu menuju area bawah.

Di ujung tangga yang menurun, sebuah bangunan tampak bernaung di bawah rimbunnya pohon-pohon tua yang menjaga kesunyian area peristirahatannya. Melangkah masuk ke dalam bangunan utama, suasana sakral terasa kental.

Sebuah makam tersusun dari batuan alam yang tertata rapi, terbalut kain putih bersih. Pada batu nisannya, terukir nama Pangeran Ramajaksa Patikusuma.

Lantai keramik yang mengilap di sekelilingnya menjadi penanda bahwa setiap peziarah wajib menanggalkan alas kaki sebelum memasuki ruang inti. Udin, sang juru kunci situs, menuturkan sosok yang bersemayam di tempat tersebut merupakan figur penting dalam sejarah terbentuknya Kuningan.

Pangeran Ramajaksa merupakan tokoh yang mengalirkan darah keturunan langsung dari Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dan diperkirakan hidup pada kurun abad ke-16 Masehi. Menurut penuturan Udin, Pangeran Ramajaksa memiliki rentang usia yang lebih tua dibandingkan Adipati Kuningan.

"Ramajaksa lebih tua dibandingkan dengan Sinuhun Adipati Kuningan. Beliau merupakan anak dari Surawisesa, yang merupakan anak dari Prabu Siliwangi. Tapi beliau sudah memeluk Islam. Dulu beliau tidak tinggal di sini, melainkan di Luragung, lalu melakukan hijrah ke Winduherang," ujar Udin saat ditemui di lokasi situs, Kamis 30 Juli 2026.

Baca juga: DPR RI Soroti Zonasi Cagar Budaya dan Tata Ruang Kota Cirebon

Sebelum menetap di Winduherang, sang pangeran terlebih dahulu menancapkan pengaruh kepemimpinannya di wilayah Luragung. Berkat kepemimpinannya dalam mengayomi masyarakat lokal kala itu, warga setempat menyapa beliau dengan julukan Ki Gede atau Ki Gedeng Kuningan.

Arah sejarah kemudian berbelok saat ulama besar Sunan Gunung Jati tiba di wilayah tersebut. Sang Sunan memberikan petunjuk agar Pangeran Ramajaksa berhijrah ke arah barat, yakni ke kawasan Winduherang.

Misinya sangat strategis yakni membantu pembentukan tatanan pemerintahan baru sekaligus membidani lahirnya padukuhan-padukuhan atau pemukiman baru di kaki Gunung Ciremai. Wilayah Winduherang pun menjadi ruang pengabdian baru bagi Pangeran Ramajaksa.

Tidak hanya merancang pemukiman, ia juga turun langsung mengajari masyarakat cara bercocok tanam serta mengorganisasi tatanan sosial. Berkat kepemimpinannya, Winduherang tumbuh pesat hingga diakui sebagai pusat aktivitas dan tatanan pemerintahan Kuningan di masa lampau.

"Setelah menjadi Ki Gede Kuningan, datanglah Sunan Gunung Jati ke sini untuk membentuk sebuah pemerintahan. Pemimpinnya kemudian diberi gelar Adipati Kuningan. Di sini beliau membantu membangun pemukiman atau pedukuhan dengan mengajarkan cara bercocok tanam. Dan cikal bakal Kuningan itu pusatnya memang ada di sini," kataUdin.

Keberadaan Winduherang sebagai pusat peradaban masa lalu diperkuat oleh peninggalan situs-situs penyokong di sekitarnya. Salah satunya adalah Situs Penyepuhan yang dahulu digunakan sebagai tempat menempa senjata dan keris, serta Situs Petilasan Ewangga sebagai lokasi berkumpulnya para pemimpin Kuningan tempo dulu.

Sebagai pilar awal terbentuknya tatanan daerah, Winduherang hingga kini memegang peranan krusial dalam setiap peringatan hari lahir Kabupaten Kuningan.

"Pusat sejarahnya ada di Winduherang. Makanya setiap tanggal 2 September saat Hari Jadi Kuningan, Bupati selalu berziarah atau nyekar ke sini. Dulu di tempat ini juga sering diadakan tradisi Malam Satu Suro, pementasan seni budaya Golewang, hingga Sedekah Bumi, meski sekarang tradisi tersebut sudah semakin jarang dilaksanakan," jelasnya.

Mengingat nilai historisnya yang kuat sebagai bukti autentik perjalanan peradaban daerah, Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kini tengah mengkaji Makam Ramajaksa sebagai salah satu dari lima Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) sejak April 2026 ini disiapkan untuk melahirkan rekomendasi penetapan Makam Ramajaksa sebagai cagar budaya peringkat kabupaten.

Langkah pelestarian ini diarahkan tidak sekadar untuk menjaga fisik warisan sejarah, melainkan juga mengusung konsep "heritage economy". Melalui pendekatan tersebut, keberadaan Makam Pangeran Ramajaksa diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat luas melalui sektor pendidikan, penelitian, pariwisata, hingga ekonomi kreatif tanpa mengabaikan aspek kelestariannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....