ROKINSA & Biopori SENTUH Dorong Pengelolaan Sampah Terpadu Desa Bantaragung
- 30 Agt 2026 20:47 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Majalengka - Perkembangan Desa Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, sebagai desa wisata membawa manfaat ekonomi sekaligus tantangan lingkungan. Meningkatnya aktivitas masyarakat dan wisatawan turut menambah timbulan sampah, sementara pengelolaan sampah rumah tangga masih menghadapi keterbatasan dalam pemilahan dan pemanfaatan teknologi.
Menjawab persoalan tersebut, tim dosen Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna berupa Roket Insenerator Sampah (ROKINSA) dan Biopori model SENTUH. Program tersebut diarahkan untuk mendukung pengelolaan sampah terpadu menuju konsep Zero Waste di Desa Bantaragung. Tim diketuai Dr. Ferry Ferdianto, S.T., M.Pd., bersama Tira Roesdiana, S.T., M.Eng. dan Dr. Ismail Saleh, S.P., M.Si., dengan melibatkan mahasiswa, Pemerintah Desa Bantaragung, masyarakat, serta BUMDes Agung Mandiri.
Kegiatan tidak hanya berfokus pada penyediaan teknologi, tetapi juga peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat. Pelaksanaannya dilakukan melalui sosialisasi, pelatihan, praktik penggunaan teknologi, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi.
Masyarakat mendapatkan edukasi mengenai konsep Zero Waste, pemilahan sampah organik dan anorganik, dampak pengelolaan sampah yang tidak tepat terhadap kesehatan dan lingkungan, serta penggunaan ROKINSA dan Biopori SENTUH.”Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta dari rata-rata 55 persen menjadi 90 persen atau meningkat 35 poin persentase. Sekitar 90 persen peserta juga telah mampu melakukan pemilahan sampah, sementara masing-masing 80 persen peserta mampu mengoperasikan ROKINSA sesuai prosedur serta membuat dan memelihara Biopori SENTUH.” ujar Dr. Ferry pada Minggu 30 Agustus 2026.
ROKINSA dikembangkan sebagai teknologi tepat guna dengan sistem pembakaran tertutup dan aliran udara yang lebih terarah. Teknologi ini digunakan untuk menangani fraksi sampah tertentu setelah melalui proses pemilahan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap praktik pembakaran sampah secara terbuka.
Dalam pelaksanaan program, sebanyak 10 unit ROKINSA diterapkan di sejumlah lokasi, di antaranya sekolah, kawasan wisata, beberapa blok di Desa Bantaragung, serta tempat pembuangan sampah sementara. Sebanyak 50 masyarakat dan operator juga mendapatkan demonstrasi serta praktik pengoperasian teknologi tersebut.

Sementara itu, sampah organik dikelola melalui Biopori model SENTUH yang merupakan singkatan dari Sampah diENergi dan TUrun ke Humus. Sampah organik seperti daun dan sisa bahan organik rumah tangga dimasukkan ke dalam lubang biopori untuk mengalami proses dekomposisi hingga menghasilkan bahan organik atau humus.”Sebanyak 50 titik Biopori SENTUH telah diterapkan di lingkungan desa. Berdasarkan monitoring selama tiga minggu, sekitar 150 kilogram sampah organik atau 52 persen dari sampah organik peserta sasaran berhasil dialihkan ke sistem biopori.” ucapnya.
Penerapan dua teknologi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus menggunakan satu teknologi untuk seluruh jenis sampah. Pemilahan sejak dari sumber menjadi langkah penting agar sampah dapat ditangani sesuai karakteristiknya.
Pemerintah Desa Bantaragung dan BUMDes Agung Mandiri turut dilibatkan untuk memperkuat keberlanjutan pengoperasian dan pemeliharaan ROKINSA serta Biopori SENTUH. Masyarakat juga diarahkan menjadi pelaku utama, mulai dari memilah sampah, mengoperasikan teknologi, melakukan pemeliharaan, hingga mencatat dan mengevaluasi pelaksanaan program.
Ke depan, program akan diperkuat melalui monitoring berkala, penguatan kelompok pengelola sampah dan kader lingkungan, penyempurnaan prosedur penggunaan teknologi, serta integrasi kegiatan dengan program Pemerintah Desa Bantaragung.
Melalui integrasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat, Desa Bantaragung diharapkan mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan yang baik tidak hanya mendukung kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga daya tarik Desa Bantaragung sebagai kawasan wisata.
Program Pengabdian kepada Masyarakat tersebut dilaksanakan pada 2026 oleh tim Universitas Swadaya Gunung Jati bersama Pemerintah Desa Bantaragung dan BUMDes Agung Mandiri. Program mendapat dukungan pendanaan Tahun Anggaran 2025 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....