ICMI Jabar Tekankan Pendidikan sebagai Kunci Percepatan Pembangunan Cirebon

  • 30 Agt 2026 14:05 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jawa Barat menyoroti kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Cirebon yang masih menjadi pekerjaan rumah. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius di tengah mencatatkan perbaikan pada sejumlah indikator ekonomi daerah.

Ketua ORWIL ICMI Jawa Barat, Prof. Dr. Ir. H. Sutarman, M.Sc., IPU, mengatakan rata-rata lama sekolah masyarakat Kabupaten Cirebon masih tergolong rendah. Berdasarkan data yang dipaparkannya, rata-rata lama sekolah pada 2026 berada di angka 7,88 tahun atau setara dengan sekitar kelas dua SMP.

"Ekonomi yang kuat tumbuh kuat, pengangguran turun, IPM meningkat, PDRB juga meningkat, ketahanan pangan juga meningkat, tapi ironisnya rata-rata sekolah masih belum tamat SMP. Ini berarti PR kita bersama," ujar Sutarman dalam arahannya pada pelantikan pengurus ICMI ORDA Kabupaten Cirebon pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Baca juga: Pengurus ICMI Kabupaten Cirebon Periode 2026–2031 Resmi Dilantik

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian ICMI Kabupaten Cirebon dalam menjalankan program dan menyusun arah kebijakan lima tahun ke depan. Ia mendorong ICMI turut membantu pemerintah daerah melakukan percepatan peningkatan rata-rata lama sekolah hingga mencapai target pembangunan yang ditetapkan.

Ia menyebutkan, capaian rata-rata lama sekolah Kabupaten Cirebon masih berada di bawah angka nasional yang mencapai sekitar 9,07 tahun. Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia dinilai perlu menjadi salah satu prioritas utama ICMI dalam berkiprah di tengah masyarakat.

Di sisi lain, ia menyampaikan sejumlah indikator pembangunan Kabupaten Cirebon menunjukkan perkembangan positif. Pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya terkontraksi akibat pandemi COVID-19 telah kembali tumbuh hingga sekitar 6,23 persen, sementara tingkat pengangguran juga mengalami penurunan.

Namun, ia mengingatkan pertumbuhan ekonomi tersebut masih disertai persoalan ketimpangan. Selain pendidikan, ia menyoroti persoalan ketahanan pangan dan stunting.

Ia menyebut indeks ketahanan pangan Kabupaten Cirebon berada pada kategori cukup tahan, sementara prevalensi stunting mengalami penurunan dari 26 persen menjadi sekitar 18 persen. Menurutnya, capaian tersebut perlu terus diperkuat agar target penurunan stunting dapat tercapai.

Ia juga mendorong ICMI Kabupaten Cirebon memperkuat program Desa Cendekia. Ia menilai desa dapat menjadi ruang strategis untuk memulai intervensi di bidang pendidikan, kesehatan, gizi, hingga ketahanan pangan.

"Yang bisa terjangkau, yang bisa digarap dengan ringan, ya itu program ICMI bahwa pembentukan desa cendekia. Di situlah berkiprah. Di situlah pendidikan bisa dimulai, dimotivasi," ujarnya.

Baca juga: Pemkab Cirebon Minta ICMI Perkuat Kolaborasi & Program Berdampak bagi Masyarakat

Ia bahkan mengusulkan agar dalam lima tahun ke depan terdapat satu Desa Cendekia di setiap kecamatan di Kabupaten Cirebon. Menurutnya, program tersebut dapat menjadi penggerak di tingkat desa sekaligus menjadi bukti nyata bahwa ICMI hadir dan bekerja langsung bersama masyarakat.

"Memprogramkan satu kecamatan, satu Desa Cendekia selama lima tahun yang datang. Satu kecamatan satu Desa Cendekia. Dari situlah menjadi penggerak untuk bisa melakukan percepatan dalam rangka mencapai target-target yang sudah dipaparkan tadi," kata Sutarman.

Baca juga: ICMI Kabupaten Cirebon Dorong Transformasi SDM, Ekonomi, Politik, dan Desa

Ia menegaskan percepatan pembangunan Kabupaten Cirebon tidak dapat dilakukan ICMI seorang diri. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan diperlukan, terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan, menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi, serta melakukan intervensi gizi secara spesifik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....