Detektif Stunting Puskesmas Kuningan Pulihkan Lima Balita dalam Enam Pekan

  • 24 Agt 2026 07:10 WIB
  •  Cirebon
Poin Utama
  • Program Detektif Stunting di UPTD Puskesmas Kuningan menggabungkan tiga pendekatan sekaligus yaitu medis, gizi, dan sanitasi untuk hasil yang optimal.
  • Dari 89 balita yang menjadi sasaran program di delapan desa dan kelurahan, lima anak berhasil keluar dari status stunting hanya dalam waktu enam pekan.
  • Tim Puskesmas Kuningan melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk mengidentifikasi penyakit penyerta yang menghambat pertumbuhan sebelum memberikan intervensi gizi dan pemeriksaan kondisi lingkungan.

RRI.CO.ID, Kuningan - Penanganan stunting di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kuningan mulai menunjukkan hasil setelah program Detektif Stunting diterapkan dengan pendekatan medis, gizi, dan sanitasi secara bersamaan. Dari 89 balita yang menjadi sasaran di delapan desa dan kelurahan, lima anak tercatat keluar dari status stunting dalam waktu enam pekan.

Program tersebut tidak hanya mengandalkan pemberian makanan tambahan. Tim Puskesmas Kuningan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap balita untuk mencari penyakit penyerta yang berpotensi menghambat pertumbuhan, kemudian dilanjutkan dengan intervensi gizi dan pemeriksaan kondisi lingkungan tempat tinggal.

Kepala UPTD Puskesmas Kuningan, Ina Listiana, menegaskan pentingnya pendekatan yang tepat dalam penanganan kasus stunting. Menurutnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi secara pasti akar penyebab gangguan pertumbuhan pada setiap anak.

“Kita tidak hanya memberikan telur, tetapi juga mencari apa penyebab anak ini mengalami stunting. Kalau ada penyakit penyerta, harus ditangani. Lingkungannya juga harus diperbaiki,” kata Ina.

Intervensi gizi dilakukan dengan memberikan asupan protein hewani berupa satu hingga dua butir telur per hari selama tiga bulan. Pada saat bersamaan, tenaga kesehatan memantau kondisi anak dan menelusuri kemungkinan infeksi kronis, termasuk tuberkulosis.

Pemeriksaan juga mencakup kondisi sanitasi keluarga sasaran, terutama ketersediaan air bersih dan jamban sehat. Pendekatan tersebut membuat petugas tidak berhenti pada pengukuran tinggi dan berat badan, tetapi turut menelusuri faktor lingkungan yang dapat memengaruhi pertumbuhan anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, Edi Martono, menilai keterlibatan dokter dalam program tersebut menjadi salah satu faktor penting. Pemeriksaan klinis dilakukan sebelum menentukan bentuk intervensi yang dibutuhkan masing-masing balita.

Menurut Edi, pola tersebut membuat penanganan lebih terukur karena kondisi kesehatan anak dipantau sejak awal hingga proses intervensi berlangsung. Sementara itu, Camat Kuningan Deni Hamdani mengatakan pelaksanaan program membutuhkan dukungan lintas sektor.

Salah satu kebutuhan terbesar berasal dari penyediaan telur yang mencapai lebih dari satu ton untuk memenuhi kebutuhan balita sasaran. Kebutuhan tersebut dipenuhi melalui kolaborasi puskesmas, pemerintah desa dan kelurahan serta dukungan tanggung jawab sosial perusahaan.

“Awalnya kami sempat menghitung kebutuhan telurnya lebih dari satu ton. Tetapi karena semua bergerak bersama, kebutuhan itu bisa dipenuhi,” ujar Deni.

Program tersebut mencakup empat desa dan empat kelurahan di wilayah kerja Puskesmas Kuningan. Koordinasi antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader posyandu dan keluarga dilakukan untuk memastikan intervensi tidak berhenti setelah pemberian makanan tambahan.

Kepala Desa Kedungarum, Sarip Hidayat, menyampaikan pendampingan dari tenaga kesehatan terus dilakukan secara intensif bagi balita di wilayahnya. Pendampingan tersebut mencakup proses pemeriksaan lanjutan hingga pengawalan rujukan ke rumah sakit jika diperlukan penanganan khusus.

Menurut Sarip, petugas turut membantu keluarga kurang mampu dalam mengurus jaminan kesehatan. Pendampingan juga dilakukan terhadap balita dengan indikasi gizi buruk, termasuk di Kelurahan Cijoho.

Program Detektif Stunting sekaligus mengubah pola kerja petugas sanitasi lingkungan. Temuan terkait kondisi rumah dan sanitasi keluarga sasaran tidak hanya dicatat sebagai laporan, tetapi ditindaklanjuti bersama tim kesehatan.

Melalui pendekatan tersebut, Puskesmas Kuningan menegaskan penanganan stunting tidak bisa hanya berfokus pada kecukupan asupan nutrisi anak semata. Pola penanganan ini secara menyeluruh juga memperhitungkan faktor kondisi kesehatan fisik anak serta kualitas lingkungan tempat mereka tumbuh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....