Disnaker Kota Cirebon Sesuaikan Pelatihan Kerja dengan Kebutuhan Industri

  • 10 Agt 2026 17:07 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Tenaga Kerja terus menyesuaikan program pelatihan kerja dengan kebutuhan industri, termasuk memastikan peserta dari berbagai latar belakang, bahkan yang belum memiliki pengalaman, dapat mengikuti pelatihan dan mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. Langkah tersebut dilakukan melalui penyusunan kurikulum berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), pembelajaran yang lebih banyak praktik, serta pemanfaatan fasilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Instruktur Ahli Pertama Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon, Vicky Victhoriansyah, mengatakan kurikulum pelatihan disusun dengan mengacu pada SKKNI agar kompetensi yang diberikan kepada peserta sesuai dengan kebutuhan dunia industri maupun dunia usaha. Menurutnya, standar tersebut menjadi acuan dalam menentukan jenis keterampilan yang harus dikuasai peserta selama mengikuti pelatihan.

“Untuk kurikulum, kami menyesuaikan dari yang namanya SKKNI. Jadi kita standarnya dari situ, supaya bisa menyesuaikan jenis kompetensi apa yang dibutuhkan di dunia industri ataupun dunia usaha,” ujar Vicky dalam Dialog Cirebon Menyapa, Senin, 10 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, metode pembelajaran dalam pelatihan kerja lebih menitikberatkan pada praktik dibandingkan teori karena peserta diarahkan agar memiliki keterampilan yang dapat langsung diterapkan ketika memasuki dunia kerja. Porsi pembelajaran yang diberikan sekitar 25 hingga 30 persen teori, sedangkan 65 hingga 70 persen lainnya lebih banyak digunakan untuk praktik.

Vicky mengatakan peserta yang belum memiliki pengalaman tetap dapat mengikuti pelatihan karena instruktur memberikan pendampingan untuk mencapai target kompetensi yang sama dengan peserta yang telah memiliki pengalaman. Peserta yang sudah berpengalaman juga didorong untuk berbagi pengetahuan dan membantu peserta lain yang masih belajar dari tahap dasar.

“Memang untuk keterampilan kita fasilitasi semua, baik itu dari yang sudah punya pengalaman atau dari nol sekalipun,” kata Vicky. Ia menambahkan, kolaborasi antarpeserta menjadi salah satu cara untuk menjembatani perbedaan kemampuan awal selama proses pelatihan berlangsung.

Selain materi teknis, peserta juga mendapatkan pembekalan yang mendukung kesiapan memasuki dunia kerja, sementara fasilitas dan peralatan pelatihan terus diupayakan agar menyesuaikan perkembangan kebutuhan industri. Menurut Vicky, penyesuaian tersebut menjadi tantangan bagi Balai Latihan Kerja karena perubahan peralatan dan teknologi di dunia kerja juga membutuhkan pembaruan fasilitas pelatihan.

“Untuk peralatan sampai saat ini selalu diusahakan untuk sesuai dengan redudi, walaupun ketika ada perubahan tentunya itu perlu penyesuaian,” ucap Vicky. Ia mengatakan upaya tersebut dilakukan agar fasilitas yang digunakan peserta tetap dapat memenuhi standar kompetensi dan membantu mereka lebih siap menghadapi kebutuhan dunia industri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....