Keraton Kasepuhan Lestarikan Tradisi Apeman, Simbol Syukur dan Doa Bersama

  • 05 Agt 2026 19:15 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Tradisi Apeman kembali merupakan salah satu rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Keraton Kasepuhan Cirebon. Tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Safar ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sarat makna spiritual sebagai ungkapan syukur dan doa bersama memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan Apeman merupakan salah satu tradisi penting yang selalu dipertahankan sebelum memasuki rangkaian Muludan. Menurutnya, masyarakat bersama keluarga besar keraton memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan.

"Makna Apeman itu adalah sebagai wujud syukur kita kepada Allah SWT. Kita bersama-sama berdoa yang dipimpin Kiai Jumhur, meminta perlindungan kepada Allah SWT dari tolak bala atau marabahaya," ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan Apeman juga berkaitan dengan keyakinan masyarakat mengenai bulan Safar yang identik dengan berbagai musibah. Namun menurutnya, doa yang dipanjatkan bukan semata-mata karena bulan tertentu, melainkan sebagai pengingat agar manusia senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT.

"Karena filosofi di bulan Safar menurut kepercayaan masyarakat biasanya banyak bala. Sebenarnya musibah itu bukan hanya di bulan Safar saja, sehingga kita tetap memohon perlindungan kepada Allah SWT," katanya.

Ia menambahkan, setelah Apeman masih terdapat sejumlah tradisi lain yang menjadi bagian dari rangkaian Muludan, di antaranya Rebo Wekasan yang akan digelar pada 13 Agustus. Dalam kegiatan tersebut, Keraton akan menyalurkan sedekah kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial.

Tradisi berbagi tersebut, lanjutnya, merupakan kelanjutan dari kebiasaan lama yang dikenal dengan tawur, yakni membagikan rezeki kepada masyarakat di sekitar keraton.

Melalui Apeman dan seluruh rangkaian tradisi Muludan, Keraton Kasepuhan berharap nilai-nilai religius, kebersamaan, dan kepedulian sosial tetap terjaga. Tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa budaya Cirebon tidak dapat dipisahkan dari ajaran Islam yang berkembang sejak masa Sunan Gunung Jati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....