Beragam Tradisi Warnai Rangkaian Muludan di Keraton Kasepuhan

  • 05 Agt 2026 19:10 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menggelar rangkaian tradisi menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Berbagai prosesi budaya dan religi telah disiapkan sejak bulan Safar sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur sekaligus syiar Islam yang telah berlangsung turun-temurun.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan seluruh rangkaian tradisi akan dimulai sejak pelaksanaan Buka Semikan pada 5 Safar. Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya persiapan menuju puncak peringatan Maulid Nabi atau Muludan di Keraton Kasepuhan.

"Alhamdulillah tahun ini Keraton Kasepuhan tetap melaksanakan tradisi rangkaian peringatan Maulid Nabi. Diawali dengan Buka Semikan pada tanggal 5 Safar dan nanti akan ditutup kembali pada tanggal 5 Mulud bersamaan dengan rangkaian Siraman Panjang," ujarnya.

Selain Buka Semikan, Keraton juga melaksanakan tradisi Gerbouan atau pelaburan bangunan keraton menggunakan tanah merah. Tradisi tersebut dilakukan dengan mengecat kembali bagian-bagian Siti Inggil, tembok Kuta Kosod, hingga area Keraton Dalem Agung Pakungwati sebagai simbol penyucian dan penghormatan terhadap warisan budaya.

Rangkaian berikutnya adalah Rebo Wekasan yang akan berlangsung pada 13 Agustus. Dalam tradisi tersebut, Keraton akan menggelar sedekah kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus melestarikan kebiasaan lama yang dahulu dikenal dengan tradisi tawur.

"Nanti tanggal 13 Agustus insyaallah ada acara Rebo Wekasan. Kita akan bersedekah kepada masyarakat dari keraton. Dulu ada tradisi tawur, sekarang kita ingin tetap berbagi sedikit rezeki kepada masyarakat," katanya.

Puncak peringatan Maulid Nabi akan berlangsung pada 12 Mulud atau diperkirakan jatuh pada 26 Agustus. Pada momen tersebut digelar Siraman Panjang, yakni prosesi pencucian benda-benda pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati yang kemudian diarak sebagai bagian dari tradisi Muludan Keraton Kasepuhan.

Menurutnya, seluruh rangkaian tersebut bukan sekadar agenda budaya, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi Islam dan budaya Cirebon yang telah diwariskan selama berabad-abad. Ia berharap masyarakat dapat ikut menyaksikan sekaligus menjaga tradisi tersebut agar tetap lestari dan menjadi identitas budaya Cirebon di tengah perkembangan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....