Sosiolog UIN Cirebon : Perceraian Terjadi karena Lemahnya Ketahanan Keluarga

  • 29 Jul 2026 17:32 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Meningkatnya angka perceraian di Kabupaten Cirebon yang mencapai 4.311 perkara sepanjang Januari hingga Juni 2026 dinilai tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu penyebab, melainkan merupakan dampak dari melemahnya ketahanan keluarga akibat interaksi berbagai persoalan, mulai dari ekonomi, komunikasi, perkembangan teknologi, hingga tingginya ekspektasi dalam rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perceraian merupakan akumulasi dari konflik yang tidak mampu dikelola secara baik oleh pasangan suami istri.

Sekretaris Program Studi Sosiologi Agama UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Nurlaili Khikmawati, M.Ant., mengatakan dirinya belum melakukan kajian spesifik mengenai perceraian di Kabupaten Cirebon. Namun, berdasarkan kajian sosiologi keluarga, perceraian merupakan bagian dari disharmoni keluarga yang erat kaitannya dengan melemahnya ketahanan keluarga atau family resilience.

"Faktor utama sih mungkin bisa dikatakan karena melemahnya ketahanan keluarga atau family resilience. Ketika ketahanan keluarga melemah, maka kemampuan keluarga untuk beradaptasi, menyelesaikan konflik, dan mempertahankan fungsi-fungsi keluarga mengalami semacam keretakan," ujar Nurlaili saat diwawancarai RRI, Senin, 27 Juli 2026.

Menurutnya, konflik dalam rumah tangga merupakan sesuatu yang wajar dan hampir tidak mungkin dihindari oleh setiap keluarga. Persoalan muncul ketika pasangan tidak memiliki kemampuan mengelola konflik sehingga jalan yang dipilih akhirnya adalah perceraian.

Ia menjelaskan, melemahnya ketahanan keluarga tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu faktor tertentu karena dipengaruhi oleh berbagai persoalan yang saling berinteraksi. Faktor ekonomi memang memiliki pengaruh besar terhadap kondisi keluarga, tetapi komunikasi yang buruk antarpasangan juga menjadi penyebab yang tidak kalah penting.

"Ada faktor ekonomi, kemudian komunikasi antar pasangan. Apalagi zaman sekarang, zaman gadget, kadang pasangan dan anak masing-masing fokus dengan gadgetnya, komunikasi kurang terbangun, akhirnya miskomunikasi banyak terjadi," kata Nurlaili.

Selain itu, ia menilai perkembangan media sosial turut membentuk standar kehidupan rumah tangga yang tidak selalu sesuai dengan realitas. Berbagai konten di media sosial kerap memunculkan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap pasangan maupun kondisi ekonomi keluarga sehingga berpotensi memicu konflik.

Nurlaili menambahkan, persoalan lain seperti kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik maupun psikis, juga menjadi bagian dari faktor yang dapat memperburuk keharmonisan keluarga. Karena itu, menurutnya peningkatan angka perceraian tidak dapat disederhanakan hanya karena satu persoalan tertentu, melainkan merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor yang saling memengaruhi.

"Kalau menurut saya enggak bisa dipilih secara spesifik. Kadang ekonominya lemah tapi komunikasinya cukup bagus sehingga bisa diatasi, atau ekonominya bagus tetapi komunikasinya tidak bisa dibangun. Jadi enggak bisa dijentralisir," ucap Nurlaili.

Ia berharap keluarga dapat memperkuat ketahanan rumah tangga dengan membangun komunikasi yang sehat, mengelola ekspektasi secara realistis, serta meningkatkan kemampuan menyelesaikan konflik bersama. Dengan demikian, berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan berkeluarga dapat dihadapi tanpa harus berujung pada perceraian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....