Akademisi Soroti Pentingnya Keteladanan Guru Cegah Stereotip Gender
- 29 Jul 2026 17:28 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Praktisi Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun pemahaman peserta didik mengenai kesetaraan peran laki-laki dan perempuan, terutama bagi anak yang telah menerima stereotip gender dari lingkungan keluarga maupun masyarakat. Keteladanan dan pendekatan yang tepat dinilai menjadi kunci agar peserta didik mampu memahami perbedaan pandangan tanpa harus bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan orang tua.
Ketua Prodi PAI Pascasarjana Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon, Dr. Fitri Meliyani, M.Pd., mengatakan waktu anak lebih banyak dihabiskan bersama keluarga sehingga guru perlu memanfaatkan kesempatan belajar di sekolah secara efektif. Menurutnya, guru dapat membangun pemahaman peserta didik melalui metode storytelling, pemberian contoh, serta sikap yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalau praktik mengajar seorang guru itu tepat, dengan pendekatan kisah atau storytelling dan guru menjadi teladan, maka anak akan belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika di sekolah kita rekonstruksi pemahamannya, bukan untuk melawan orang tua, tetapi agar anak menyampaikan perbedaan pendapat dengan lemah lembut," ujarnya kepada RRI Senin, 27 Juli 2026.
Selain menjadi teladan, ia menilai calon guru Pendidikan Agama Islam juga perlu memiliki kompetensi yang memadai dalam menerapkan pedagogi yang berkeadilan gender. Kompetensi tersebut mencakup pemahaman terhadap landasan ajaran Islam, kemampuan membedakan fitrah laki-laki dan perempuan dengan konstruksi budaya, serta kepekaan terhadap isu-isu gender yang berkembang di masyarakat.
Menurut Dr. Fitri, guru juga perlu memberikan ruang yang sama bagi peserta didik laki-laki maupun perempuan untuk mengembangkan potensi sesuai kemampuan masing-masing. Ia menilai laki-laki perlu diberi kesempatan mengekspresikan emosinya, sementara perempuan juga harus memperoleh kesempatan untuk memimpin dan mengambil peran di lingkungan sekolah.
"Guru harus memberikan ruang kepada setiap siswa laki-laki dan perempuan untuk menjadi diri mereka sendiri. Laki-laki boleh mengungkapkan kesedihannya, dan perempuan juga boleh mengambil peran untuk memimpin di dalam kelas," katanya.
Lebih lanjut, ia menilai kurikulum Pendidikan Agama Islam di Indonesia pada dasarnya telah mengakomodasi nilai-nilai pendidikan yang inklusif dan menghargai kesetaraan hak peserta didik. Namun, menurutnya, implementasi di lapangan masih memerlukan pengawasan dan evaluasi yang lebih optimal.
Ia menambahkan, penguatan monitoring menjadi penting agar berbagai bentuk diskriminasi maupun kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dapat dicegah dan ditindak secara tegas. Dengan pengawasan yang baik, penerapan pedagogi yang berkeadilan diharapkan dapat berjalan lebih efektif di sekolah maupun madrasah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....