Pemilahan Sampah Anorganik Buka Peluang Ekonomi bagi Masyarakat

  • 25 Jul 2026 09:37 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Sampah anorganik tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan telah menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Di Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, aktivitas pengumpulan dan perdagangan sampah anorganik bahkan berkembang menjadi mata pencaharian turun-temurun hingga wilayah tersebut dikenal sebagai "Kampung Rongsok".

Pelaku pengumpul sampah anorganik, Carkino, mengatakan usaha yang dijalaninya telah diwariskan dari orang tuanya dan kini menjadi sumber ekonomi bagi banyak warga. Berbagai jenis sampah seperti plastik, botol bekas, kardus, hingga pecahan kaca dipilah sebelum dijual ke pengepul maupun industri daur ulang.

"Kalau usaha pengumpul sampah nonorganik ini sudah dari bapak saya. Dulu saya hanya membantu, sekarang saya tekuni. Sampah itu punya nilai jual, jadi ada nilai ekonominya," katanya dalam dialog Green Radio RRI Cirebon, Sabtu, 18 Juli 2026.

Menurutnya sampah plastik menjadi komoditas yang paling banyak dikumpulkan karena volumenya tinggi dan memiliki nilai jual yang cukup baik. Dari satu tempat penampungan sementara (TPS), volume sampah anorganik yang terkumpul dapat mencapai sekitar 10 ton setiap bulan.

"Kalau dihitung dari satu TPS saja, dalam satu bulan bisa sampai 10 ton. Semua dipilah sesuai jenisnya dan semuanya terjual, tidak ada yang menjadi sampah lagi," ujarnya.

Ia menjelaskan, setiap jenis sampah memiliki harga berbeda sesuai kualitas dan kebutuhannya. Barang elektronik bekas seperti televisi atau komputer memiliki nilai ekonomi paling tinggi, sedangkan pecahan kaca menjadi salah satu jenis dengan harga paling rendah.

"Kalau yang paling tinggi biasanya barang elektronik. Kalau yang paling rendah pecahan beling. Semua tetap ada pembelinya," ucapnya.

Ia menambahkan, aktivitas daur ulang di Panguragan telah berlangsung sejak era 1960-an. Saat ini, ratusan jenis barang bekas dapat diperjualbelikan sehingga menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

"Di Panguragan itu bukan limbah, tetapi barang yang punya nilai ekonomi. Banyak warga menggantungkan hidup dari usaha rongsok sehingga ikut mengurangi pengangguran," katanya.

Meski demikian, ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan nyata terhadap aktivitas pengelolaan sampah anorganik. Salah satunya adalah melalui penyediaan fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) atau TPS 3R agar proses pemilahan dapat berjalan lebih tertata.

"Kalau bisa pemerintah memfasilitasi TPS terpadu atau TPS 3R di Panguragan. Jadi pengelolaan sampah lebih tertib dan sampah liar bisa dikurangi," ujarnya.

Selain itu, ia menilai edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah juga perlu diperkuat. Menurutnya, apabila masyarakat terbiasa memisahkan sampah organik dan anorganik, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang sekaligus memberikan tambahan pendapatan melalui bank sampah.

"Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah, sampah bisa ditimbang dan memiliki nilai ekonomi. Itu bisa menjadi penyemangat masyarakat sekaligus mengurangi sampah ke TPA," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....