Anak & Layar : Teman atau Tantangan?

  • 24 Jul 2026 16:07 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon — Gadget kini hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, bahkan bagi anak-anak yang masih sangat kecil. Bagi sebagian orang tua, memperkenalkan gadget sejak dini menjadi pilihan yang sulit dihindari.

Hal ini juga dilakukan oleh Ibu Leoris (27) asal Desa Panjalin Kabupaten Cirebon yang merupakan salah satu orang tua yang memperbolehkan anaknya menggunakan gadget sejak usia satu tahun. Pada awalnya, penggunaan gadget hanya dilakukan sesekali dengan durasi singkat, biasanya untuk menonton lagu, animasi, atau video sederhana yang menarik perhatian anak.

“Awalnya memang cuma sesekali dan sebentar. Biasanya saya kasih tontonan lagu atau video anak-anak karena anak terlihat tertarik dengan warna dan suara dari layar,” ujar Ibu Leoris kepada RRI saat diwawancarai pada Senin (20/7/2026).

Keputusan untuk mengenalkan gadget sejak usia satu tahun bukan tanpa alasan. Anak terlihat tertarik dengan warna, gambar, dan suara yang muncul dari layar. Seiring waktu, gadget tidak hanya digunakan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media untuk mengenalkan berbagai hal baru kepada anak. Video edukasi, misalnya, dapat membantu anak belajar mengenal warna, angka, huruf, hingga informasi sederhana dengan cara yang lebih menyenangkan.

Menurut Ibu Leoris, selama penggunaannya tetap diawasi, gadget juga dapat memberikan manfaat bagi proses belajar anak.

“Kalau kontennya sesuai dengan usia anak, saya rasa ada manfaatnya. Anak bisa belajar mengenal warna, angka, huruf, dan hal-hal baru lainnya dengan cara yang lebih menyenangkan,” jelasnya.

Bagi orang tua, gadget juga terkadang menjadi “teman sementara” ketika anak sedang rewel atau bosan. Saat orang tua harus menyelesaikan pekerjaan rumah atau aktivitas lainnya, memberikan tontonan kepada anak dianggap cukup membantu. Namun, orang tua menyadari bahwa gadget tidak bisa terus-menerus dijadikan solusi untuk setiap kerewelan anak.

Bermain, membaca, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga tetap menjadi bagian penting dalam keseharian anak. Ibu Leoris mengaku bahwa dirinya terkadang memberikan gadget ketika anak sedang rewel atau ketika ia harus menyelesaikan pekerjaan rumah.

Seiring anak bertambah besar, aturan penggunaan gadget pun mulai diterapkan. Saat ini, anak biasanya menghabiskan sekitar satu hingga dua jam sehari untuk menggunakan gadget, meskipun durasinya dapat berubah tergantung situasi. Ada pula aturan sederhana yang mulai dibiasakan, seperti tidak menggunakan gadget saat makan dan menjelang tidur.

Bagi orang tua seperti Leoris, membuat batasan penggunaan gadget menjadi penting agar waktu di depan layar tidak mengambil alih waktu anak untuk melakukan aktivitas lainnya.

“Kadang memang membantu, terutama kalau anak sedang rewel atau saya sedang ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi saya tidak ingin gadget menjadi satu-satunya cara untuk menenangkan anak. Sekarang saya mulai membatasi waktunya. Biasanya sekitar satu sampai dua jam sehari, tergantung situasi. Saya juga berusaha supaya anak tidak menggunakan gadget saat makan atau menjelang tidur,” kata Ibu Leoris.

Bukan hanya soal berapa lama anak menatap layar, apa yang ditonton juga menjadi perhatian. Orang tua berusaha mendampingi anak saat menggunakan gadget dan memilihkan konten yang sesuai dengan usianya. Konten yang mengandung kekerasan atau bahasa yang tidak sesuai sebisa mungkin dihindari.

Dengan begitu, gadget diharapkan tidak hanya menjadi alat untuk membuat anak diam, tetapi juga dapat memberikan pengalaman belajar yang positif. Ibu Leoris mengatakan bahwa dirinya berusaha mendampingi dan memilihkan tontonan untuk anak.

“Kalau masih kecil, menurut saya memang harus didampingi. Saya biasanya pilihkan video yang sesuai dan menghindari konten yang ada kekerasan atau bahasa yang tidak pantas untuk anak. Kalau terlalu lama biasanya anak jadi susah diajak melakukan kegiatan lain dan kadang marah ketika gadgetnya diambil. Jadi memang harus konsisten. Kalau waktunya sudah selesai, saya coba alihkan ke kegiatan lain seperti bermain atau membaca,,” tuturnya.

Namun, membatasi screen time ternyata tidak selalu mudah. Ketika terlalu lama menggunakan gadget, anak terkadang menjadi sulit diajak melakukan aktivitas lain dan merasa kesal ketika waktunya dihentikan. Penggunaan gadget menjelang tidur juga dapat membuat anak lebih sulit beristirahat.

Dari pengalaman tersebut, diharapkan para orang tua dimanapun, bisa memulai untuk memanhami bahwa penggunaan gadget yang berlebihan dapat memengaruhi kebiasaan dan perilaku anak, sehingga diperlukan aturan yang konsisten. Pada akhirnya, mengenalkan gadget sejak usia dini bukan hanya tentang boleh atau tidak boleh.

Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua mengatur, mengawasi, dan mendampingi penggunaannya. Gadget memang bisa menjadi sumber hiburan sekaligus media belajar, tetapi anak tetap membutuhkan dunia di luar layar—bermain, berinteraksi, beristirahat, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, tantangan bagi orang tua bukan sekadar menjauhkan anak dari layar, melainkan membantu mereka belajar menggunakan teknologi dengan cara yang sehat dan seimbang.

(Sumber: Salshakhoerunisa_TelkomUniversityBandung)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....