Kecamatan Suranenggala Pacu Pembuatan Biopori Hadapi Kemarau
- 18 Jul 2026 19:50 WIB
- Cirebon
RRI.co.id, Cirebon – Pemerintah Kecamatan Suranenggala memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai penghematan air bersih serta pembangunan titik resapan dan biopori sebagai langkah mitigasi menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau 2026. Upaya tersebut dilakukan karena sebagian besar masyarakat masih mengandalkan sumur bor dan sumur manual sebagai sumber utama kebutuhan air rumah tangga.
Langkah antisipasi itu disampaikan Camat Suranenggala, Amin Mughni, dalam Dialog Cirebon Menyapa yang disiarkan RRI Cirebon pada Rabu, 15 Juli 2026. Ia menjelaskan sosialisasi dilakukan melalui forum masyarakat dan pemerintah desa agar warga mulai menerapkan pengelolaan air secara lebih efisien sejak awal musim kemarau.
Menurut Amin, cakupan layanan PDAM di Suranenggala hingga kini masih terbatas sehingga sebagian besar masyarakat masih memanfaatkan sumur bor maupun sumur manual, terutama di Desa Suranenggala Lor, Suranenggala Kidul, dan Suranenggala Kulon. Sementara layanan PDAM baru menjangkau sebagian wilayah Desa Purwawinangun, Surakarta, dan Kraton.
"Kebanyakan di kita masih menggunakan sumur bor, kemudian beberapa desa masih memakai sumur manual. Sementara PDAM masih belum banyak menjangkau karena baru sebagian desa saja," ujar Amin.
Selain mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih, pemerintah kecamatan juga mendorong pembangunan titik-titik resapan agar air hujan tidak langsung mengalir ke laut. Edukasi tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga cadangan air tanah selama musim kemarau berlangsung.
"Kami mengimbau masyarakat berhemat air bersih, kemudian menyiapkan resapan-resapan air, termasuk biopori dan penampungan air untuk kebutuhan rumah tangga," kata Amin.
Pemerintah Kecamatan Suranenggala juga memperoleh dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup melalui Program Desa Sehat yang memberikan bantuan penampungan air dan pembangunan biopori di sejumlah lokasi. Di tingkat kecamatan disiapkan empat titik yang dijadwalkan mulai direalisasikan pada awal Agustus 2026 sebagai bagian dari penguatan konservasi air.
Amin menambahkan program tersebut merupakan dukungan pemerintah pusat yang dikembangkan melalui konsep desa bersih dan sehat sehingga tidak hanya berfungsi untuk pengelolaan lingkungan, tetapi juga meningkatkan daya resap air ke dalam tanah. Menurutnya, keberadaan biopori dengan kedalaman lebih dari tiga meter diharapkan mampu membantu menjaga cadangan air tanah sekaligus mengurangi dampak kekeringan pada musim kemarau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....