Ironi Kabupaten Konservasi, Demi Wisata Puncak Mayana Digunduli, Warga Krisis Air

  • 17 Jul 2026 21:21 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan — Warga desa penyangga Bukit Mayana, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, mengeluhkan berkurangnya debit sejumlah mata air yang selama ini menjadi sumber air bersih dan irigasi pertanian. Mereka menilai kondisi tersebut mulai terjadi setelah kawasan lereng Bukit Mayana mengalami pembukaan lahan dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah kondisi tersebut, pembangunan kawasan wisata di lereng Bukit Mayana juga menjadi sorotan masyarakat. Beredar informasi yang mengaitkan proyek tersebut dengan salah seorang pejabat di Kabupaten Kuningan. Namun hingga berita ini ditulis, informasi tersebut belum dapat diverifikasi melalui dokumen resmi maupun keterangan dari pihak yang disebutkan. Karena itu, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Kabupaten Kuningan selama ini dikenal sebagai daerah dengan ribuan mata air dan dijuluki sebagai salah satu kabupaten konservasi di Jawa Barat. Namun di kaki Bukit Mayana, warga justru merasakan kondisi yang bertolak belakang. Debit mata air terus menurun, sementara lahan pertanian mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan air.

Petani asal Desa Ciketak, Jaka yang setiap hari menggarap lahan di sekitar Bukit Mayana, mengatakan perubahan kondisi lingkungan sangat terasa dalam beberapa tahun terakhir.

"Di sana telah terjadi penebangan hutan endemik. Dampak dari itu, kami sebagai para petani khususnya, umumnya sebagai masyarakat, debit air berkurang. Bahkan Mata Air Cigula yang selama ini mengalir untuk kehidupan masyarakat Desa Ciketak dan untuk pertanian, sekarang sudah tidak ada, sudah tidak mengalir lagi," ujar Jaka kepada RRI.CO.ID, pada Jumat 17 Juli 2026.

Menurut Jaka, bukan hanya Mata Air Cigula yang mengalami penurunan debit. Mata Air Cikirai, Curug Jangkung hingga sumber air di Blok Pamandungan juga mulai menyusut. Akibatnya, petani kesulitan mengairi sawah dan mulai mengkhawatirkan ancaman gagal panen apabila kondisi tersebut terus berlanjut.

Hasil pengamatan lapangan yang dipadukan dengan analisis citra historis Google Earth menunjukkan perubahan bentang alam Bukit Mayana berlangsung cukup cepat. Pada 2021, lereng bukit masih didominasi vegetasi hutan yang rapat. Memasuki 2022 mulai terlihat pembukaan lahan di sejumlah titik. Sementara pada periode 2025 hingga 2026, sebagian kawasan terutama di Blok Depok berubah menjadi lahan terbuka dengan tutupan vegetasi yang jauh berkurang.

Secara ekologis, Bukit Mayana merupakan daerah tangkapan hujan dan kawasan resapan air yang memasok cadangan air tanah bagi desa-desa di bawahnya. Kawasan ini juga berfungsi menahan erosi serta mengurangi potensi longsor ketika musim hujan.

Warga menyebut pembukaan lahan turut menghilangkan pohon-pohon endemik seperti kawung (enau) dan lame yang selama ini dikenal mampu menyimpan cadangan air di dalam tanah. Hilangnya vegetasi tersebut diyakini menjadi salah satu penyebab berkurangnya debit mata air.

Pemerhati lingkungan asal Kadugede, Deni Darmadi, mengatakan Bukit Mayana sejak dahulu dikenal sebagai gunung larangan yang dijaga masyarakat karena memiliki fungsi ekologis dan menjadi habitat satwa liar.

"Gunung Mayana nu aya di Desa Kadugede eta hiji ikon, gunung penyangga atawa disebut gunung larangan. Paranti nyalindung sasatoan, paranti nampung cai dina ayana resapan air. Nah ayeuna di ditu aya pembangunan, tatangkalan ditaluaran. Kuring geus kabayang, cai ka handap berkurang, sasatoan kalabakan ka lemburan di antarana monyet jeung babi," katanya.

Menurut Deni, berkurangnya tutupan hutan tidak hanya berdampak terhadap cadangan air, tetapi juga memicu satwa liar keluar dari habitatnya menuju permukiman warga karena kehilangan ruang hidup dan sumber pakan.

Selain ancaman krisis air, warga juga mengkhawatirkan potensi longsor. Kawasan Blok Depok yang kini didominasi lahan terbuka dinilai semakin rentan mengalami pergerakan tanah saat hujan deras mengguyur wilayah Kadugede.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi aktivitas pembangunan di Bukit Mayana, memastikan seluruh perizinan dan kajian lingkungan dipenuhi, serta melakukan rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan agar fungsi ekologis bukit sebagai penyangga kehidupan masyarakat dapat kembali dipulihkan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola kawasan wisata maupun Pemerintah Kabupaten Kuningan terkait keluhan warga mengenai penurunan debit mata air dan dugaan dampak lingkungan akibat pembukaan lahan di Bukit Mayana, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....