Masuk Fase Pencarian Jati Diri, Keinginan Diterima Kelompok Dominan pada Remaja
- 19 Jun 2026 18:11 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon — Keinginan untuk diterima dalam kelompok pertemanan sering kali menjadi faktor yang memengaruhi perilaku remaja. Dalam banyak kasus, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan sosial bahkan lebih kuat dibandingkan kesadaran untuk membedakan mana yang benar dan salah. Kondisi ini merupakan bagian dari proses perkembangan psikologis yang terjadi pada masa remaja.
Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 2 Sumber, Hj. Maesaroh, S.Pd., mengatakan fenomena tersebut berkaitan erat dengan konformitas teman sebaya. Pada fase remaja, individu cenderung menyesuaikan diri dengan norma dan kebiasaan yang berlaku di lingkungan pergaulannya. Hal itu dilakukan agar mereka dapat diterima dan merasa menjadi bagian dari kelompok.
Menurutnya, ada sejumlah faktor psikologis yang memengaruhi kondisi tersebut. Salah satunya adalah perkembangan otak remaja yang belum sepenuhnya matang. Selain itu, remaja juga sedang berada dalam tahap pencarian identitas diri sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan psikososial.
“Menurut pandangan psikologi, hal ini terjadi karena adanya konformitas teman sebaya. Remaja berada pada fase pencarian identitas sehingga keinginan untuk diterima kelompok sering kali menjadi kebutuhan yang sangat kuat,” ujar Maesaroh saat dihubungi RRI pada Kamis, 18 Juni 2026.
Maesaroh menjelaskan, remaja juga mengalami dorongan untuk lebih mandiri dan mulai mengurangi ketergantungan kepada orang tua. Dalam proses tersebut, mereka mencari figur dan lingkungan yang dapat memberikan rasa aman serta pengakuan sosial. Akibatnya, pendapat dan penilaian teman sebaya menjadi sangat berpengaruh.
Selain itu, terdapat ketakutan terhadap penolakan sosial yang cukup tinggi pada usia remaja. Sensitivitas terhadap pandangan orang lain membuat mereka berusaha menyesuaikan diri dengan kelompok. Kondisi ini dapat memunculkan kekhawatiran untuk berbeda atau tidak diterima oleh lingkungan pergaulan.
“Yang paling kuat adalah tekanan teman sebaya secara halus. Tekanan ini membuat sebagian remaja sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah karena mereka lebih fokus untuk memperoleh penerimaan dari kelompoknya,” ucapnya.
Ia menambahkan, kelompok teman sebaya memiliki norma dan ekspektasi sosial yang tidak selalu tertulis, tetapi tetap dipatuhi oleh anggotanya. Norma tersebut menjadi standar perilaku yang dianggap wajar dalam lingkungan pergaulan. Karena itu, peran keluarga dan pendidikan karakter tetap diperlukan agar remaja mampu mengambil keputusan yang tepat tanpa harus selalu mengikuti tekanan kelompok.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....