Kemenag Kabupaten Cirebon Tanamkan Kurikulum Berbasis Cinta Cegah Radikalisme
- 18 Jun 2026 15:31 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon terus memperkuat upaya pencegahan radikalisme di kalangan pelajar melalui berbagai program pembinaan karakter. Langkah tersebut dilakukan seiring perkembangan teknologi digital yang semakin memudahkan penyebaran berbagai paham kepada generasi muda.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cirebon, H. Slamet, mengatakan pelajar tingkat MTs, SMP, MA, dan SMA berada pada fase pencarian jati diri. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terpengaruh oleh informasi yang diperoleh melalui ruang digital.
Menurutnya, penyebaran paham radikal tidak selalu berasal dari lingkungan sekitar. Arus informasi dari luar daerah bahkan luar wilayah menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama oleh seluruh elemen masyarakat.
"Kita harus ingat pada posisi adik-adik kita usia MTs atau SMP, atau SMA/Aliyah, itu usia pencarian jati diri. Jadi biasanya kalau usia pencarian jati diri itu mereka ingin menunjukkan egonya, kemudian di-branding dengan teknologi yang luar biasa, yang enggak bisa kita bendung," ujarnya kepada RRI Kamis 18 Juni 2026.
Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Agama Kabupaten Cirebon berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Dinas Pendidikan. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang bertujuan menanamkan nilai-nilai positif kepada peserta didik.
Salah satu program yang saat ini digencarkan adalah penerapan kurikulum berbasis cinta di lingkungan pendidikan keagamaan. Kurikulum tersebut dirancang untuk membangun karakter siswa yang moderat, toleran, dan memiliki kepedulian sosial.
H. Slamet menjelaskan kurikulum berbasis cinta menanamkan lima nilai utama kepada peserta didik. Nilai tersebut meliputi cinta kepada Allah dan Rasul, cinta kepada ilmu, cinta kepada lingkungan, cinta kepada diri sendiri dan sesama, serta cinta kepada tanah air.
"Kita di Kementerian Agama sekarang lagi membumikan tentang kurikulum berbasis cinta. Nah, kurikulum berbasis cinta ini ada lima poin yang kita tanamkan kepada peserta didik, yaitu cinta pada Allah dan Rasul, cinta kepada ilmu, cinta kepada lingkungan, cinta kepada diri sendiri dan sesama, serta cinta pada tanah air," katanya.
Ia menilai kelima nilai tersebut sebenarnya telah diajarkan dalam proses pendidikan selama ini. Namun, Kementerian Agama berupaya agar nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai teori, melainkan menjadi bagian dari karakter peserta didik.
Melalui pendekatan tersebut, Kementerian Agama berharap tumbuh kesadaran dari dalam diri siswa untuk hidup berdampingan dengan sesama. Dengan demikian, peserta didik dapat memahami pentingnya menghargai perbedaan agama, suku, dan latar belakang dalam kehidupan bermasyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....