Budayawan Kuningan Soroti Pendidikan yang Minim Kearifan Lokal

  • 30 Mei 2026 12:43 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon – Stigma masyarakat adat yang identik dengan hal mistis dan animisme dinilai muncul karena kurang tepatnya penyampaian dalam pendidikan maupun informasi publik. Kondisi tersebut membuat nilai-nilai kearifan lokal belum sepenuhnya dipahami masyarakat secara utuh.

Budayawan Kuningan, Dodo Suwondo mengatakan dunia pendidikan saat ini lebih berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, pendidikan karakter dan kearifan lokal justru mulai terpinggirkan dalam proses pembelajaran.

“Yang lebih dipentingkan sekarang kelihatannya adalah nilai hasil belajar siswa sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. Sementara kearifan lokalnya ditinggalkan, karakternya ditinggalkan,” ujarnya kepada RRI Jumat, 29 Mei 2026.

Ia menilai pembelajaran berbasis kearifan lokal sebenarnya dapat diterapkan di berbagai mata pelajaran. Menurutnya, guru memiliki ruang untuk mengintegrasikan budaya dan lingkungan ke dalam materi pembelajaran di sekolah.

Dodo mencontohkan gagasannya dalam penyusunan Kurikulum Ciremai yang memuat materi pelestarian ikan air tawar lokal di Kabupaten Kuningan. Upaya tersebut dilakukan agar generasi muda mengenal sekaligus menjaga kekayaan alam daerahnya.

“Ikan-ikan lokal yang ada di perairan bebas di Kabupaten Kuningan tetap lestari, tetap ada. Sekarang sulit sekali dicari itu,” ucapnya.

Ia menyebut berbagai faktor seperti penggunaan racun dan setrum oleh pencari ikan membuat populasi ikan lokal semakin berkurang. Karena itu, pendidikan dinilai menjadi salah satu cara penting untuk membangun kepedulian lingkungan sejak dini.

Menurutnya, integrasi antara pendidikan modern dan kearifan lokal perlu dilakukan secara bijak agar keduanya berjalan seimbang. Dengan begitu, generasi muda tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian terhadap budaya daerah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....